Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  2. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  3. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  4. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  5. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  1. Beranda
  2. Artikel
  3. Pelajaran Pancasila dari Sebuah Sikat Gigi

Pelajaran Pancasila dari Sebuah Sikat Gigi

M
Penulis: Muhammad Husnul Huda
18 Oktober 2026, 01.35 WITA Editor: Nurul
8 menit baca
Toothbrush Offered in the Washroom
Ilustrasi seorang santri menyerahkan sikat gigi baru kepada temannya di lingkungan pesantren sebagai bentuk tanggung jawab dan permintaan maaf. Peristiwa sederhana ini mencerminkan nilai-nilai Pancasila, seperti kejujuran, kepedulian, dan sikap saling menghargai. (Ilustrasi AI/JurnalPost)

JurnalPost.com - Saya pernah kehilangan sebuah sikat gigi ketika masih tergolong santri baru. Kedengarannya sepele, bahkan mungkin terlalu sederhana untuk dijadikan sebuah cerita. Namun, bagi saya, peristiwa kecil itu justru menjadi salah satu pengalaman yang membuat saya mulai memahami arti hidup bersama di lingkungan pesantren.

Ketika pertama kali masuk pesantren, saya masih membawa banyak kebiasaan dari rumah. Salah satunya adalah kebiasaan mengurus barang-barang pribadi. Bedanya, di pesantren tidak ada lagi ibu yang setiap saat mengingatkan atau membantu mencarikan barang ketika saya lupa meletakkannya.

IKLAN

Senior di kamar pernah mengingatkan bahwa kehilangan atau tertukarnya barang merupakan sesuatu yang bisa terjadi. Jumlah santri yang banyak membuat barang-barang mudah berpindah tempat. Selain itu, sebagian santri juga masih sama-sama belajar untuk menghargai dan menjaga barang milik orang lain.

Mahasiswa PJJ
Baca Juga

Dari Sapu Lidi sampai Emperan Kamar: Begini Santri Nurul Maghfiroh Menghidupkan Pancasila

Suatu pagi, ketika hendak mandi, saya mendapati peralatan mandi saya tidak lagi berada di tempat semula. Setelah mencari ke beberapa sudut, saya menemukan sebagian barang tersebut tergeletak di lantai, tepatnya di sudut lorong kamar mandi.

Namun, setelah saya periksa satu per satu, ada satu barang yang tidak ditemukan, yaitu sikat gigi.

Saya mulai merasa kesal. Berbagai prasangka pun muncul dalam pikiran. Saya kemudian bertanya kepada beberapa teman yang berada di sekitar tempat tersebut. Saat itu, saya sempat menduga bahwa mungkin ada seseorang yang mengambilnya.

Karena masih penasaran, saya menceritakan kejadian tersebut kepada senior kamar. Saya tidak bermaksud mencari siapa yang mengambil barang itu. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang baru saja saya alami.

bersih sampah
Baca Juga

Peran Pesantren dalam Melestarikan Lingkungan melalui Pembiasaan Memilah Sampah

Responsnya justru sangat santai.

“Hahaha... santai, Kang, itu pengalaman berharga. Sabun sampean taruh kamar saja. Jangan di rak yang depan kamar mandi. Kalau punya saya mah aman, kebanyakan santri sungkan sama saya.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa barang yang diletakkan di rak depan kamar mandi memang lebih mudah tersenggol atau berpindah tempat. Setelah mendengar penjelasannya, saya pun menganggap persoalan tersebut selesai.

Namun, ternyata ceritanya belum berakhir.

Ilustrasi kecerdasan buatan, Pancasila, dan integritas dalam pendidikan.
Baca Juga

Pancasila dan Kejujuran di Era AI: Ketika Kecerdasan Buatan Menggantikan Proses Berpikir Manusia?

Kejujuran yang Datang Tanpa Diminta

Siang harinya, ketika saya pulang sekolah, seorang santri senior yang usianya sekitar 18 tahun mendatangi saya.

Ia menjelaskan bahwa pada malam sebelumnya, dirinya sempat merapikan rak tempat peralatan mandi. Ketika itu, sabun saya yang semula berada di rak bagian atas dipindahkan ke bagian bawah. Akibatnya, peralatan mandi tersebut menjadi lebih mudah tersenggol dan jatuh.

Setelah menjelaskan kejadian itu, ia mengatakan sesuatu yang sederhana, tetapi cukup membekas dalam ingatan saya.

“Maafkan saya, Kang.”

Tidak berhenti sampai di situ, ia juga membawa sebuah sikat gigi baru sebagai bentuk ganti rugi. Ia meminta saya untuk mengikhlaskan kejadian tersebut.

Saya justru merasa terkejut.

Bukan karena mendapatkan sikat gigi baru. Bahkan, saya menolak pemberiannya karena sebelumnya sudah membeli sikat gigi pengganti sehingga tidak membutuhkannya lagi.

Hal yang membuat saya terkesan adalah keberaniannya untuk datang sendiri dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Tidak ada yang menuduhnya. Tidak ada pula yang secara khusus mencari siapa yang harus bertanggung jawab. Saya sendiri sebelumnya tidak mengetahui bagaimana peralatan mandi tersebut bisa berpindah tempat.

Ia sebenarnya dapat memilih untuk diam. Jika demikian, mungkin saya tidak akan pernah mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Namun, ia memilih untuk datang, mengakui keterlibatannya, meminta maaf, dan menawarkan ganti rugi.

Bagi saya yang ketika itu masih menjadi santri baru, sikap tersebut merupakan pengalaman yang cukup mengejutkan sekaligus memberikan pelajaran berharga.

Saya mulai memahami bahwa kehidupan di pesantren memiliki cara tersendiri dalam menghadapi persoalan.

Kesalahan tidak selalu harus berakhir dengan mencari siapa yang paling pantas disalahkan. Ada ruang untuk memberikan penjelasan, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan menyelesaikan persoalan secara baik-baik.

Belajar Menahan Prasangka dan Memahami Tabayun

Dari peristiwa tersebut, saya juga mulai menyadari satu kekurangan dalam diri sendiri, yaitu terlalu mudah mengambil kesimpulan.

Ketika mengetahui sikat gigi saya hilang, pikiran pertama yang muncul adalah dugaan bahwa seseorang telah mengambilnya.

Padahal, kenyataannya belum tentu demikian.

Barang yang tidak ditemukan bukan berarti selalu ada orang yang sengaja mengambilnya. Bisa saja barang tersebut berpindah karena tersenggol, terjatuh, atau sebab lain yang belum kita ketahui.

Pengalaman itu membuat saya semakin memahami pentingnya tabayun, yaitu mencari kejelasan atau memastikan kebenaran suatu informasi sebelum mengambil sikap.

Ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, kita perlu belajar menahan diri sebelum membuat kesimpulan.

IKLAN

Kita perlu bertanya, mencari kejelasan, dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

Sikap tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, dalam kehidupan bersama, kemampuan menahan prasangka dapat membantu mencegah kesalahpahaman yang lebih besar.

Bayangkan apabila ketika itu saya langsung menuduh seseorang mengambil sikat gigi saya. Persoalan kecil yang sebenarnya dapat diselesaikan dengan baik mungkin justru berkembang menjadi pertengkaran.

Dari kejadian tersebut, saya belajar bahwa tidak semua persoalan harus segera dijawab dengan kemarahan. Terkadang, kita hanya perlu bersabar dan memberi kesempatan agar keadaan menjadi lebih jelas.

Menemukan Nilai Pancasila dalam Kehidupan Pesantren

Ketika mengingat kembali kejadian tersebut, saya justru teringat pada sesuatu yang selama ini kita kenal sebagai nilai-nilai Pancasila.

Pancasila sering kali hadir dalam bentuk hafalan. Kita mengenal lima silanya, menjawab pertanyaan tentang maknanya, dan mempelajarinya melalui buku maupun penjelasan guru di ruang kelas.

Namun, semakin saya memikirkan pengalaman tersebut, semakin saya menyadari bahwa nilai-nilai Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Nilai itu dapat ditemukan dalam tindakan sederhana, termasuk ketika seseorang berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Sikap santri senior yang datang meminta maaf mengingatkan saya pada nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Menghargai orang lain tidak cukup hanya dilakukan melalui perkataan yang baik. Sikap tersebut juga tercermin dari kesediaan untuk mengakui kesalahan, menjaga hak orang lain, dan bertanggung jawab ketika tindakan kita menimbulkan kerugian.

Dalam peristiwa itu, santri senior tersebut tidak menunggu sampai seseorang menegurnya. Ia datang atas kesadarannya sendiri.

Bagi saya, tindakan tersebut merupakan contoh sederhana bagaimana nilai kemanusiaan dapat diwujudkan melalui perilaku sehari-hari.

Selain itu, pengalaman tersebut juga mengingatkan saya pada sila keempat Pancasila, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

Musyawarah bukan hanya sesuatu yang dibicarakan dalam pelajaran Pendidikan Pancasila atau diterapkan dalam rapat organisasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, semangat permusyawaratan juga dapat tercermin dari kesediaan untuk mendengar penjelasan, mempertimbangkan keadaan dengan bijaksana, dan mencari penyelesaian tanpa memaksakan kehendak.

Ketika menghadapi persoalan, kita tidak seharusnya terburu-buru menetapkan siapa yang salah sebelum memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai permusyawaratan yang menjadi bagian dari dasar kehidupan berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa peristiwa kehilangan sikat gigi tersebut merupakan contoh musyawarah formal. Namun, cara persoalan itu diselesaikan memperlihatkan pentingnya komunikasi, keterbukaan, dan sikap saling menghargai.

Nilai-nilai itulah yang juga diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan Tidak Selalu Datang dari Ruang Kelas

Saya tidak mengatakan bahwa kehidupan di pesantren selalu berjalan sempurna. Setiap lingkungan tentu memiliki persoalan dan tantangannya masing-masing.

Saya sendiri pun masih terus belajar, termasuk dalam memahami bagaimana seharusnya bersikap ketika menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

Namun, dari kejadian kecil yang bermula dari hilangnya sebuah sikat gigi, saya mendapatkan pelajaran yang tidak pernah saya bayangkan ketika pertama kali masuk pesantren.

Saya belajar bahwa kejujuran membutuhkan keberanian. Mengakui kesalahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari tanggung jawab terhadap orang lain.

Saya juga belajar bahwa prasangka yang muncul terlalu cepat dapat membuat kita keliru memahami suatu keadaan.

Ternyata, pendidikan tidak selalu datang dalam bentuk pelajaran yang tertulis di papan tulis, tugas sekolah, atau penjelasan guru di depan kelas.

Terkadang, pendidikan justru hadir melalui pengalaman sederhana yang membuat kita berhenti sejenak, berpikir, dan memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.

Pagi itu, saya kehilangan sebuah sikat gigi. Namun, dari kejadian tersebut, saya memperoleh pengalaman berharga tentang kejujuran, tanggung jawab, pentingnya tabayun, dan keberanian untuk meminta maaf.

Pengalaman itu juga mengajarkan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak harus selalu dipahami melalui pembahasan yang besar dan rumit.

Nilai-nilainya dapat dimulai dari hal-hal kecil, seperti menghargai barang milik orang lain, mengakui kesalahan, mendengarkan penjelasan, dan tidak terburu-buru menuduh seseorang.

Pada akhirnya, saya semakin memahami bahwa Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan. Nilai-nilainya akan lebih bermakna ketika kita berusaha menjadikannya bagian dari sikap dan cara hidup bersama.


Biodata Penulis

Muhammad Husnul Huda merupakan mahasiswa Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Pendidikan Agama Islam di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC). Penulis berdomisili di Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Ia memiliki ketertarikan pada bidang pendidikan, kehidupan pesantren, serta pengalaman sosial dan keagamaan yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/pelajaran-pancasila-dari-sebuah-sikat-gigi/98239/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.56 WITA

  • #Kejujuran
  • #Pendidikan Karakter
  • #Pesantren
  • #kehidupan santri
  • #pancasila
  • #pengalaman
  • #tabayun
  • #tanggung jawab

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Main Ponsel Saat Lampu Merah, Apakah Termasuk Pelanggaran Lalu Lintas? Ini Tinjauan Hukumnya

Kemandirian Pesantren: Dari Pusat Pendidikan Agama Menjadi Penggerak Ekonomi Desa

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik

HUT ke-58 Semen Tonasa, Transformasi Bisnis dan Efisiensi Jadi Fokus

Pilihan Editor

  1. 1 Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur Magang di Setda Mojokerto, Pelajari Evaluasi Kinerja dan Pelayanan Publik
  2. 2

    Pasar.id BRI Bojonegoro Hadirkan Peluang Penghasilan Tambahan bagi Pengemudi Ojek Lokal

  3. 3

    Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

  4. 4

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  5. 5

    Keamanan Pangan pada Jajanan Kaki Lima: Tantangan Higiene dan Sanitasi dalam Pengolahan Makanan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.