JurnalPost.com - Persoalan sampah masih menjadi masalah lingkungan yang mudah ditemukan di berbagai daerah. Salah satu kebiasaan yang hingga kini belum sepenuhnya hilang adalah membuang sampah ke selokan atau saluran drainase.
Bagi sebagian orang, selokan mungkin dianggap sebagai tempat paling praktis untuk membuang sampah rumah tangga. Sampah yang sebelumnya berada di sekitar rumah memang terlihat menghilang, tetapi sebenarnya hanya berpindah tempat dan menciptakan masalah baru bagi lingkungan.
Kondisi seperti ini juga dapat dijumpai di sejumlah kawasan di Palembang maupun Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Sampah plastik, styrofoam, kemasan makanan, popok sekali pakai hingga berbagai limbah rumah tangga dapat menumpuk di saluran air.
Ketika jumlahnya semakin banyak, sampah akan menyumbat aliran drainase. Selokan yang seharusnya menjadi jalur pembuangan air justru kehilangan fungsi utamanya.
Selokan Memiliki Fungsi Penting
Selokan bukan sekadar saluran yang berada di pinggir jalan atau di depan rumah warga. Keberadaannya menjadi bagian penting dari sistem drainase suatu kawasan.
Saluran tersebut berfungsi mengalirkan air hujan agar tidak menggenang di jalan maupun masuk ke permukiman. Air kemudian dialirkan menuju saluran yang lebih besar sebelum akhirnya menuju sungai atau tempat pembuangan air lainnya.
Ketika saluran air dalam kondisi bersih, air hujan dapat mengalir dengan lebih lancar. Sebaliknya, tumpukan sampah dapat mempersempit bahkan menutup jalur air.
Satu botol plastik yang tersangkut di dalam saluran, misalnya, dapat menjadi penghambat bagi sampah lain. Lambat laun terbentuk tumpukan yang semakin besar hingga membuat aliran air berhenti.
Masalah biasanya semakin terasa ketika hujan dengan intensitas tinggi turun. Volume air meningkat, sementara kapasitas saluran berkurang akibat penyumbatan. Akibatnya, air dapat meluap ke jalan hingga memasuki kawasan permukiman.
Sampah di Selokan Memicu Pencemaran
Dampak membuang sampah ke selokan tidak berhenti pada persoalan banjir.
Sampah organik yang tertahan di saluran air akan mengalami proses pembusukan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan bau tidak sedap sekaligus menurunkan kualitas lingkungan di sekitar permukiman.

Sementara itu, sampah anorganik seperti kantong plastik, botol, kemasan makanan, dan styrofoam membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai.
Material plastik yang terus berada di lingkungan juga dapat mengalami pelapukan menjadi partikel yang lebih kecil, termasuk mikroplastik. Apabila terbawa aliran air, sampah tersebut dapat masuk ke sungai dan akhirnya mencemari ekosistem yang lebih luas.
Persoalan yang awalnya terlihat hanya terjadi di depan rumah kemudian dapat berkembang menjadi masalah lingkungan pada tingkat kawasan hingga daerah aliran sungai.
Menjadi Tempat Berkembang Biaknya Penyakit
Selokan yang tersumbat sampah juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan masyarakat.
Air yang tidak mengalir dengan baik dapat membentuk genangan. Kondisi seperti ini dapat menjadi tempat berkembang biaknya sejumlah jenis nyamuk.
Nyamuk Aedes aegypti, misalnya, dikenal sebagai salah satu vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sementara malaria ditularkan melalui nyamuk Anopheles.
Selain nyamuk, lingkungan dengan banyak sampah dan saluran air kotor juga dapat menarik kehadiran tikus maupun serangga lainnya.
Risiko kesehatan semakin meningkat apabila air kotor yang tercemar bersentuhan dengan manusia. Lingkungan yang tidak higienis dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari penyakit kulit, diare hingga leptospirosis yang berkaitan dengan bakteri dari urine hewan terinfeksi, terutama tikus.
Tidak kalah penting, lingkungan yang kotor dan berbau juga mengurangi kenyamanan masyarakat. Warga harus hidup dengan pemandangan saluran penuh sampah, aroma tidak sedap, serta ancaman genangan setiap kali hujan turun.
Perubahan Harus Dimulai dari Rumah
Mengatasi masalah sampah di selokan sebenarnya dapat dimulai dari tindakan sederhana.
Hal paling mendasar adalah berhenti membuang sampah ke saluran air, termasuk sampah berukuran kecil seperti bungkus makanan, puntung rokok, tisu, maupun kemasan plastik.
Masyarakat juga perlu membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah organik dan anorganik sebaiknya ditempatkan pada wadah yang sesuai sebelum dibuang melalui sistem pengangkutan sampah yang tersedia.
Selain kesadaran individu, kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan masih relevan dilakukan. Pembersihan saluran air secara berkala dapat mencegah sedimentasi lumpur dan tumpukan sampah semakin parah.
Namun, kegiatan membersihkan selokan saja tidak akan menyelesaikan persoalan apabila kebiasaan membuang sampah sembarangan terus berlangsung.
Karena itu, pemerintah daerah, perangkat lingkungan dan masyarakat perlu berjalan bersama. Penyediaan tempat sampah, sistem pengangkutan yang teratur, edukasi lingkungan hingga penerapan aturan terhadap pembuangan sampah sembarangan menjadi bagian yang saling berkaitan.
Menjaga Selokan Berarti Menjaga Lingkungan
Selokan sering dianggap sebagai bagian kecil dari lingkungan permukiman. Padahal, ketika saluran tersebut tidak berfungsi, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Banjir, genangan, bau tidak sedap, pencemaran hingga meningkatnya risiko penyakit dapat bermula dari kebiasaan sederhana membuang sampah ke saluran air.
Karena itu, menjaga kebersihan selokan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau petugas kebersihan. Masyarakat memiliki peran yang sama besarnya.
Perubahan dapat dimulai dari depan rumah masing-masing: tidak membuang sampah ke saluran air, mengelola sampah secara benar, dan ikut menjaga kebersihan lingkungan.
Selokan yang bersih akan membuat aliran air lebih lancar, lingkungan lebih sehat, sekaligus membantu mengurangi risiko genangan dan banjir di kawasan permukiman.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda