Malang, JurnalPost.com — Limbah organik yang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan mulai dimanfaatkan sebagai bagian dari solusi biaya pakan ternak. Di Karangploso, Kabupaten Malang, Kelompok Ternak Mitra Mandiri Jaya mengembangkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai sumber protein alternatif untuk pakan ayam buras.
Pengembangan tersebut dilakukan melalui pendampingan Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur dalam program bertajuk “Penguatan Ekonomi Sirkular Berbasis Maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk Efisiensi Pakan Usaha Peternak Ayam Buras.”
Program dipimpin Ardhi Islamudin, S.E., M.A., bersama Putri Dwi Aprilia Nur Khasanah, S.E., M.Sc. dan Meilenia Rahma Salisa, S.Ak., M.Ak. Dua mahasiswa Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur, Nindya Aliyah Maulidina dan Muhammad Dzulfikri Rivai, turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Maggot Jadi Alternatif Sumber Protein
Sebelum pendampingan dilakukan, kebutuhan pakan ternak kelompok masih mengandalkan jagung giling, bekatul, daun-daunan, serta sejumlah bahan pakan lainnya.
Budidaya maggot sebenarnya sudah pernah dicoba secara mandiri. Namun, penerapannya masih terbatas dan belum menggunakan sistem produksi yang terstruktur.
Belum tersedia pula standar operasional prosedur atau SOP tertulis, pencatatan hasil produksi, perhitungan efisiensi biaya, hingga strategi pengembangan usaha.
Pendampingan kemudian diarahkan untuk menata proses tersebut agar pemanfaatan maggot dapat dilakukan lebih konsisten dan berkelanjutan.
Ketua tim pengabdian, Ardhi Islamudin, mengatakan pemanfaatan BSF tidak hanya berkaitan dengan penyediaan pakan ternak, tetapi dapat dihubungkan dengan pengelolaan limbah dan produksi pupuk organik.
“Limbah organik dapat diolah menjadi media budidaya maggot. Maggot yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif untuk pakan ayam, sedangkan residu budidayanya dapat digunakan sebagai pupuk organik. Sistem tersebut membentuk suatu siklus yang memberikan manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi peternak,” ujar Ardhi.
Limbah yang dimanfaatkan berasal dari masyarakat sekitar dan pasar. Sebelum diberikan kepada maggot, bahan tersebut harus dipilah untuk memisahkan sampah organik dari plastik maupun material lain yang sulit terurai.
Limbah selanjutnya dihancurkan dan difermentasi agar lebih mudah dikonsumsi larva BSF.
Maggot yang telah dipanen dapat diberikan langsung sebagai campuran pakan ayam. Hasil produksi yang berlebih juga bisa dikeringkan atau dibekukan sehingga dapat disimpan lebih lama.
Berdasarkan monitoring dan evaluasi pada Rabu, 22 Juli 2026, maggot telah digunakan sebagai salah satu sumber protein dalam campuran pakan ayam kampung.
Produksi yang melebihi kebutuhan harian juga mulai diarahkan agar memiliki nilai tambah, termasuk kemungkinan dikembangkan menjadi produk pakan ikan.
Residu Budidaya Diolah Menjadi Pupuk
Konsep ekonomi sirkular yang diterapkan tidak berhenti pada pemanfaatan maggot.
Residu budidaya atau frass serta kotoran ayam turut diarahkan menjadi bahan pupuk organik. Dengan cara ini, sisa produksi tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali dalam kegiatan pertanian maupun peternakan.
Skema tersebut memungkinkan satu jenis limbah menghasilkan beberapa manfaat sekaligus. Limbah organik menjadi media tumbuh maggot, maggot digunakan sebagai pakan ternak, sementara residunya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
Peternak Mulai Didorong Mencatat Biaya Usaha
Pendampingan juga menyasar persoalan pengelolaan keuangan.
Kelompok ternak diperkenalkan pada pembukuan sederhana berupa buku kas harian, pencatatan stok, rekapitulasi bulanan, pencatatan biaya produksi, hingga perhitungan Break Even Point (BEP) atau titik impas.
Pembukuan dibutuhkan agar peternak dapat membandingkan biaya sebelum dan sesudah menggunakan maggot sebagai campuran pakan.
Data tersebut juga bisa menjadi dasar untuk menghitung pendapatan, menentukan harga jual, hingga menilai apakah suatu kegiatan produksi memberikan keuntungan.
Di sisi pemasaran, pemanfaatan media sosial turut didorong untuk memperkenalkan ayam buras, telur, maggot kering, maupun pupuk organik kepada pasar yang lebih luas.
Diversifikasi tersebut diharapkan membuka sumber pendapatan baru yang tidak hanya bergantung pada penjualan ayam.
Pemilahan Sampah Masih Jadi Tantangan
Meski mulai berjalan, pengembangan budidaya maggot masih menghadapi sejumlah kendala.
Salah satunya adalah limbah organik dari sumber pengumpulan yang masih bercampur dengan plastik. Peternak harus melakukan pemilahan secara manual sebelum limbah dapat digunakan sebagai media budidaya.
Pencatatan mengenai volume limbah, jumlah produksi maggot, kebutuhan pakan, serta biaya usaha juga masih terus diperbaiki agar data yang diperoleh lebih konsisten.
Mitra sendiri menyediakan lokasi kegiatan, peralatan pendukung, bahan baku organik, serta tenaga yang dibutuhkan untuk menjalankan sarana budidaya.
Tahap berikutnya akan diarahkan pada penyelesaian SOP budidaya, penguatan sistem pembukuan, perhitungan titik impas, serta pengukuran perubahan biaya pakan berdasarkan data produksi.
Program tersebut menargetkan pengurangan limbah organik hingga sekitar 40 persen serta penurunan biaya pakan sekitar 20–30 persen melalui substitusi pakan komersial secara bertahap.
Apabila hasil tersebut dapat dicapai secara konsisten, pengembangan maggot BSF berpotensi menjadi model usaha peternakan yang memadukan efisiensi biaya dengan pengelolaan lingkungan.
Model serupa juga berpeluang diterapkan kelompok peternak lain di Kabupaten Malang maupun daerah lain di Jawa Timur dengan menyesuaikan ketersediaan limbah organik dan skala usaha masing-masing.
Kegiatan tersebut turut dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 6: Clean Water and Sanitation, khususnya melalui upaya pengurangan limbah organik, serta SDGs 8: Decent Work and Economic Growth melalui efisiensi biaya dan pengembangan peluang usaha peternak.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda