Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Ekspektasi Gaji Belasan Juta Gen Z: Realistis atau Bunga Tidur?

Ekspektasi Gaji Belasan Juta Gen Z: Realistis atau Bunga Tidur?

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
15 Agustus 2026, 11.26 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
5 menit baca
Gaji Belasan Juta

JurnalPost.com - Fenomena potongan video wawancara di media sosial—atau yang akrab disebut FYP—sering memperlihatkan anak-anak muda menyampaikan ekspektasi gaji pertama (fresh graduate) yang fantastis. Angkanya tak main-main: mulai dari Rp10 juta hingga Rp30 juta per bulan. Alasan yang paling sering digaungkan adalah status mereka sebagai lulusan perguruan tinggi ternama.

Bagi sebagian generasi muda potongan video semacam ini bisa saja dianggap sebagai gambaran umum tentang besarnya gaji yang layak diterima seorang lulusan perguruan tinggi. Terlebih lagi, tekanan ekonomi saat ini memicu kekhawatiran akibat lonjakan harga barang pokok dan tingginya biaya hidup di kawasan metropolitan. Pertanyaannya, apakah tuntutan kompensasi setinggi itu memang masuk akal jika dibandingkan dengan realitas pasar kerja dan kemampuan para pencari kerja muda saat ini?

IKLAN

Jika dibedah melalui data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran usia muda (15–24 tahun) secara makro memperlihatkan tren penurunan. Pada Februari 2025, populasi penganggur di kelompok umur ini tercatat sebanyak 3,84 juta orang, lalu menyusut menjadi 3,54 juta orang pada Februari 2026. Meski menunjukkan tren positif, jumlah penganggur pada kelompok usia muda masih jauh lebih besar dibandingkan kelompok usia 25–34 tahun yang berada di angka 1,7 juta orang.

Imam Maulid
Baca Juga

Mahasiswa UNAIR Gelar Pengabdian Masyarakat di Desa Rahia dan Kamama Mekar, Buton Tengah

Menurut David Stillman dan Jonah Stillman dalam buku Generasi Z: Memahami Karakter Generasi Baru yang Akan Mengubah Dunia Kerja, Gen Z memiliki beberapa karakter yang membedakannya dari generasi sebelumnya, di antaranya Figital, Realistis, FOMO (Fear of Missing Out), dan D.I.Y (Do It Yourself). Karakter tersebut menggambarkan generasi yang tumbuh bersama teknologi, memiliki kecenderungan praktis dalam mengambil keputusan, mudah mengikuti perkembangan yang sedang berlangsung, serta terbiasa mencari solusi secara mandiri melalui akses informasi di internet. Kondisi ini juga membuat informasi mengenai pekerjaan, gaji, dan gaya hidup pekerja semakin mudah mereka temukan melalui media sosial.

Gen Z memang dikenal sangat mengandalkan teknologi, namun mereka tetap berupaya realistis dalam mengambil keputusan yang menjaga kenyamanan serta kesehatan mental. Mengenai fenomena tuntutan gaji fantastis, pola pemikiran Gen Z sebenarnya sangat terstratifikasi berdasarkan kelas sosial-ekonomi. Bagi sebagian lulusan dari kelompok masyarakat kelas atas (upper class), ekspektasi gaji Rp10–30 juta mungkin dianggap wajar karena disesuaikan dengan standar biaya hidup dan gaya hidup yang selama ini mereka kenal. Sebaliknya, bagi sebagian Gen Z dari kelompok menengah ke bawah, pertimbangan mengenai kecukupan gaji mungkin lebih banyak dikaitkan dengan standar upah di wilayah tempat mereka tinggal..

Lantas, apakah realistis bagi seorang lulusan baru untuk langsung mengantongi kompensasi bernilai puluhan juta rupiah? Jawabannya : mungkin, tetapi bukan sesuatu yang mudah dan tentu bukan gambaran umum bagi setiap lulusan baru.

IKLAN

Dalam Perusahaan tertentu dapat mengalokasikan gaji yang tinggi untuk lulusan baru, asalkan sang kandidat menguasai kompetensi langka (niche skills) yang dibuktikan dengan sertifikasi profesional bereputasi—terutama sertifikasi internasional. Keahlian khusus di bidang Data Science, Software Engineering, Financial Modeling, maupun Cybersecurity dapat menjadi nilai tambah karena kompetensi tersebut dibutuhkan dalam bidang industri tertentu.

Tim pelaksana
Baca Juga

Prodi S1 Fisika UNAIR Gelar Pelatihan Elektrostimulator bagi Tenaga Kesehatan di Puskesmas Polanharjo

Namun, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang bertolak belakang. Persoalan muncul ketika ekspektasi gaji tinggi tidak dibarengi dengan kompetensi, portofolio, sertifikasi, maupun pengalaman yang dapat menunjukkan kemampuan kandidat. Dalam situasi ini, ekspektasi kompensasi tersebut dapat menjadi tidak realistis dan memperlihatkan adanya kesenjangan antara persepsi diri (self-perception) dengan nilai tawar pasar (market value). Bagi entitas bisnis, rekrutmen adalah kalkulasi investasi. Merekrut tenaga kerja berbiaya tinggi tanpa kapasitas yang sepadan adalah bentuk risiko kerugian operasional yang selalu dihindari oleh manajemen manapun.

Menghadapi fenomena ini, dibutuhkan kompromi dan reorientasi dari kedua belah pihak demi menciptakan ekosistem kerja yang produktif. Dari sisi perusahaan, manajemen perlu peka terhadap karakter Gen Z yang menyukai kemandirian dan fleksibilitas. Manajemen perusahaan perlu memodernisasi kultur organisasi agar fleksibel serta komunikatif tanpa mengorbankan tolok ukur kinerja (KPI). Pendekatan yang terlalu kaku dan instruktif hanya akan memicu gesekan emosional dan angka pengunduran diri (turnover) yang tinggi.

Di sisi lain, Generasi Z wajib mengasah kepekaan untuk menganalisis budaya organisasi tempat mereka melamar. Menuntut hak kompensasi tinggi adalah hal yang sah, namun harus diimbangi dengan kewajiban meningkatkan kapasitas diri. Nilai tawar yang tinggi tidak lahir dari nama besar almamater semata, melainkan dari portofolio, sertifikasi pendukung, dan bukti kinerja nyata. Pada akhirnya, tanpa pembuktian kompetensi dan daya saing yang sepadan, tuntutan gaji belasan hingga puluhan juta rupiah hanya akan menjadi ekspektasi yang sulit diwujudkan apabila tidak disertai kompetensi dan daya saing yang sepadan.

Furqan Daniel

Mahasiswa UNAIR
Baca Juga

Mahasiswa UNAIR Berdayakan Kader KSH Pogot Baru Surabaya untuk Cegah DBD dari Lingkungan

Furqan Daniel akhsani T alumnis Sistem Informasi & IKA UNAIR cabang bangkalan

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/ekspektasi-gaji-belasan-juta-gen-z-realistis-atau-bunga-tidur/97112/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #UNAIR

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Dari Daun Kelor Menjadi Snackbar Bergizi, FK UPN “Veteran” Jakarta Ajak Masyarakat Kelurahan Pangkalan Jati Baru Perkuat Upaya Pencegahan Stunting

Pilihan Editor

  1. 1 Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?
  2. 2

    Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru

  3. 3

    Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

  4. 4

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  5. 5

    Dukung SDG 4 dan SDG 12, Laboratorium FTS UPN Veteran Jawa Timur Kini Terapkan SOP Pengelolaan Limbah B3

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.