BUTON TENGAH, JurnalPost.com - Mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Rahia dan Desa Kamama Mekar, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, pada 18–24 Juli 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK) penyetaraan melalui Village Development Expedition 7.0 (VDE 7.0) yang diselenggarakan bersama Yayasan Barakati Indonesia.
Program pengabdian ini telah dipersiapkan sejak 5 Mei 2026 dengan mengusung pendekatan multisektoral yang berfokus pada peningkatan kesadaran gizi, pengembangan potensi pariwisata desa, serta penguatan hubungan sosial dan budaya masyarakat.
Pemilihan program tersebut dilatarbelakangi oleh sejumlah tantangan pembangunan di Kabupaten Buton Tengah, terutama persoalan kemiskinan dan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 yang dirujuk penyelenggara, persentase penduduk miskin di Kabupaten Buton Tengah mencapai 15,43 persen, lebih tinggi dibandingkan angka kemiskinan nasional.
Sementara itu, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Buton Tengah sebesar 36,8 persen, yang tercatat sebagai angka tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara pada periode tersebut.
Kondisi ini menjadi pertimbangan mahasiswa dalam menyusun tiga program utama yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 8 mengenai pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, serta SDGs 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan.
Edukasi Gizi dan Lomba Masak Berbahan Pangan Lokal
Salah satu kegiatan utama dalam pengabdian masyarakat ini adalah edukasi gizi yang bertujuan meningkatkan pemahaman warga mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga, terutama bagi anak-anak.
Berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan masyarakat, mahasiswa menyelenggarakan sosialisasi makanan sehat dan bergizi yang diikuti oleh 35 peserta.
Kegiatan tersebut menghadirkan Wiranto, S.Gz., Dietisien, sebagai narasumber yang memberikan penjelasan mengenai prinsip Pedoman Gizi Seimbang (PGS), pemilihan bahan makanan, serta pentingnya memperhatikan kandungan nutrisi dalam menu sehari-hari.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan lomba memasak makanan bergizi yang melibatkan 24 warga.
Berbeda dengan lomba memasak pada umumnya, peserta didorong memanfaatkan bahan pangan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti daun kelor, singkong, tahu, tempe, ikan, telur, dan mi.
Pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi salah satu fokus kegiatan karena masyarakat dapat mengolah makanan bergizi tanpa harus bergantung pada bahan yang mahal atau sulit diperoleh.
Dalam perlombaan tersebut, hasil masakan dinilai berdasarkan cita rasa, kesesuaian porsi makanan untuk anak, serta kandungan gizinya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap masyarakat semakin memahami bahwa pemenuhan gizi seimbang dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber pangan yang tersedia di desa.
Pelatihan Desa Wisata untuk Mengembangkan Potensi Ekonomi Lokal
Selain bidang kesehatan, mahasiswa UNAIR bersama Yayasan Barakati Indonesia juga memberikan perhatian terhadap pengembangan potensi ekonomi masyarakat melalui program pelatihan desa wisata.
Program ini dirancang untuk membantu masyarakat mengenali potensi wisata di lingkungan mereka sekaligus meningkatkan keterampilan yang dapat mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Sebanyak 10 warga mengikuti kegiatan yang terbagi menjadi tiga rangkaian, yakni sosialisasi desa wisata, walking tour, dan pelatihan meronce.
Dalam sesi sosialisasi, peserta mendapatkan pengenalan mengenai konsep desa wisata, strategi pemasaran atau branding destinasi, serta cara mengidentifikasi potensi lokal yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Sementara itu, kegiatan walking tour memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan teknik pemanduan wisata, mengenali objek-objek potensial, dan mempelajari cara mengambil foto yang menarik untuk kebutuhan promosi.
Pelatihan meronce turut diperkenalkan sebagai kegiatan pengembangan keterampilan kreatif yang berpotensi mendukung produk kerajinan masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa berupaya memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dasar agar masyarakat dapat mengembangkan potensi wisata desa secara bertahap dan berkelanjutan.
Perkuat Kebersamaan Warga Melalui Kegiatan Sosial Budaya
Program ketiga berfokus pada penguatan hubungan sosial dan pelestarian budaya melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Sebanyak 60 warga mengikuti rangkaian lomba dan penampilan budaya yang diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan pengabdian.
Berbagai perlombaan dirancang menyesuaikan kelompok peserta agar seluruh lapisan masyarakat dapat berpartisipasi.
Anak-anak mengikuti lomba estafet sarung, kelompok ibu-ibu berpartisipasi dalam estafet menggendong ember, sedangkan kelompok bapak-bapak mengikuti lomba memaku.
Suasana kebersamaan semakin terasa saat kegiatan dilanjutkan dengan penampilan budaya dari anak-anak desa setempat.
Peserta dari Yayasan Barakati Indonesia juga turut memeriahkan acara dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah asal mereka.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keberagaman budaya sekaligus mempererat hubungan antara peserta pengabdian dan masyarakat Desa Rahia serta Kamama Mekar.
Antusiasme warga terlihat dari keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan selama program berlangsung.
Mendapat Apresiasi dari Pemerintah Desa
Pelaksanaan program pengabdian masyarakat tersebut mendapat tanggapan positif dari pemerintah desa setempat.
Kepala Desa Rahia menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Barakati Indonesia dan para peserta yang telah datang untuk melaksanakan kegiatan bersama masyarakat.
“Yayasan Barakati dan pesertanya jauh-jauh ke sini bisa membawa program yang sangat luar biasa,” ujar Kepala Desa Rahia.
Berdasarkan pengamatan dan dokumentasi penyelenggara, kegiatan pengabdian ini memperoleh respons positif dari masyarakat. Partisipasi warga dalam berbagai program juga menjadi salah satu indikator awal penerimaan kegiatan tersebut.
Meski demikian, dampak jangka panjang dari program edukasi gizi, pengembangan desa wisata, dan kegiatan sosial budaya masih memerlukan tindak lanjut serta evaluasi lebih lanjut.
Melalui Village Development Expedition 7.0, mahasiswa UNAIR berharap kegiatan pengabdian tidak hanya menjadi sarana penerapan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan pemberdayaan masyarakat.
Kolaborasi antara mahasiswa, yayasan, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan menjadi langkah awal untuk mendorong pengembangan potensi lokal yang lebih berkelanjutan di Kabupaten Buton Tengah.
Profil Penulis
Imam Maulid merupakan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat melalui program Village Development Expedition 7.0 (VDE 7.0) bersama Yayasan Barakati Indonesia di Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda