By : Dien Anthanya Fayza
JurnalPost.com - Perkembangan teknologi digital yang cepat dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Internet, media sosial, dan berbagai perangkat seperti ponsel pintar membuat informasi semakin mudah diakses oleh siapa saja. Kini masyarakat dapat memperoleh berita, hiburan, maupun pengetahuan hanya melalui gawai yang selalu berada di tangan mereka. Kemudahan ini tentu memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi digital juga membantu mempercepat proses komunikasi dan memperluas akses terhadap berbagai sumber informasi. Banyak aktivitas yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga kini dapat dilakukan dengan lebih praktis. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pula tantangan baru yang perlu diperhatikan. Salah satunya berkaitan dengan perubahan kebiasaan masyarakat dalam membaca. Hal tersebut menandakan bahwa perkembangan teknologi memberikan pengaruh positif sekaligus negatif bagi kehidupan sehari-hari.
Belakangan ini, muncul kekhawatiran mengenai menurunnya minat baca di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Banyak anak dan remaja lebih sering menghabiskan waktu dengan gawai dibandingkan membaca buku. Kondisi ini tentu menjadi perhatian karena membaca merupakan salah satu cara penting untuk memperluas pengetahuan. Tanpa kebiasaan membaca yang baik, kualitas literasi masyarakat dapat ikut terpengaruh. Fenomena tersebut dapat ditemukan di berbagai lingkungan kehidupan. Di rumah, di sekolah, bahkan di ruang publik, gawai hampir selalu hadir dalam aktivitas sehari-hari. Anak-anak dan remaja sering kali lebih fokus pada layar ponsel daripada pada buku yang ada di sekitarnya. Situasi ini menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian yang sangat dekat dengan kehidupan generasi muda. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam menggunakan waktu senggang telah mengalami perubahan.
Generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi seperti ini sering disebut sebagai generasi gadget. Sejak usia dini mereka sudah terbiasa menggunakan berbagai perangkat digital. Gawai tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk bermain, belajar, dan mencari informasi. Kedekatan ini membuat banyak anak dan remaja lebih nyaman berinteraksi dengan layar digital. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan mengapa minat baca generasi muda cenderung menurun. Salah satu penyebabnya adalah perubahan cara masyarakat dalam memperoleh informasi. Saat ini, banyak orang lebih tertarik pada konten yang singkat, cepat, dan menarik secara visual. Konten seperti ini dianggap lebih praktis dan mudah dipahami. Situasi tersebut juga berdampak pada cara berpikir serta gaya belajar anak dan remaja masa kini.
Kondisi ini tentu dapat berdampak pada kemampuan literasi generasi muda. Membaca sebenarnya memiliki peran yang sangat penting dalam membantu seseorang memahami berbagai informasi secara lebih mendalam. Melalui membaca, seseorang dapat memperluas wawasan sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, kebiasaan membaca tetap perlu dipelihara meskipun teknologi semakin berkembang. Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk mengatasi persoalan ini? Upaya menumbuhkan kembali minat baca tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung budaya membaca. Peran bersama ini sangat penting agar kebiasaan membaca dapat kembali tumbuh. Kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi faktor yang sangat penting dalam upaya memperbaiki sekaligus meningkatkan kemampuan literasi generasi muda.
Dalam lingkungan keluarga, orang tua memiliki peran yang sangat besar juga sekaligus menjadi suatu fondasi kuat untuk menghasilkan anak-anak yang gemar membaca. Selain itu, sekolah juga memiliki tanggung jawab penting dalam mengembangkan budaya literasi. Guru dapat mendorong siswa untuk lebih aktif membaca melalui berbagai kegiatan pembelajaran. Program literasi sekolah, seperti kegiatan membaca sebelum pelajaran dimulai, dapat menjadi salah satu langkah yang efektif. Disamping itu, selain keluarga dan sekolah masyarakat juga memiliki peran dalam mendukung budaya membaca. Keberadaan perpustakaan, taman bacaan masyarakat, dan berbagai kegiatan literasi dapat menjadi sarana untuk meningkatkan minat baca. Lingkungan yang menyediakan akses terhadap buku akan membantu masyarakat lebih dekat dengan kegiatan membaca. Jika lingkungan sekitar mendukung, masyarakat akan lebih mudah terdorong untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan yang kondusif dan penuh dukungan seperti ini memiliki peran besar dalam mendorong terbentuknya budaya membaca yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Di era digital seperti sekarang, teknologi sebenarnya juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan minat baca. Berbagai buku elektronik, artikel pengetahuan, dan sumber bacaan digital kini dapat diakses dengan mudah melalui internet di ponsel pintar. Jika dimanfaatkan dengan bijak, teknologi justru dapat membantu memperluas kesempatan masyarakat untuk membaca. Dengan demikian, teknologi tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan saja, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai media yang mendorong masyarakat untuk terus belajar dan memperluas pengetahuan. Dengan demikian, perkembangan teknologi tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman bagi budaya membaca. Justru dengan adanya teknologi dapat menjadi peluang untuk memperkaya pengetahuan apabila digunakan secara baik dan tepat. Dengan dukungan dari berbagai pihak seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat, generasi gadget di era digital tetap dapat tumbuh menjadi generasi yang memiliki wawasan luas dan gemar membaca. Oleh karena itu, diperlukan peran bersama dari berbagai pihak untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya membaca agar kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan secara bijak dalam meningkatkan kualitas literasi masyarakat. Penggunaan teknologi yang bijak dapat memberikan dampak positif yang besar terhadap peningkatan kemampuan literasi masyarakat.
Penulis : Dien Anthanya Fayza Mahasiswi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda