Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Generasi Strawberry di Dunia Kerja: Kurang Tangguh atau Salah Didik?

Generasi Strawberry di Dunia Kerja: Kurang Tangguh atau Salah Didik?

Foto profil Nadia
Editor: Nadia
29 Juni 2025, 22.32 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
4 menit baca
Generasi Strawberry
Oleh: Syahwa Putri Ismaiga JurnalPost.com - Istilah “Generasi Strawberry” belakangan ramai diperbincangkan, terutama dalam konteks dunia kerja. Generasi ini yang umumnya merujuk pada Gen Z digambarkan seperti buah stroberi: menarik, kreatif, namun mudah "hancur" ketika menghadapi tekanan. Banyak perusahaan mengeluh tentang ketahanan mental mereka yang rendah, kecenderungan mudah menyerah, dan sensitivitas berlebihan terhadap kritik. Namun, benarkah masalah ini murni karena kelemahan generasi muda, atau justru akibat pola asuh dan sistem yang tidak mempersiapkan mereka menghadapi realitas kerasnya dunia kerja? Artikel ini akan membedah fenomena Generasi Strawberry dari dua perspektif: karakteristik alami Gen Z yang tumbuh di era digital, dan peran lingkungan termasuk pola asuh dan sistem pendidikan dalam membentuk ketangguhan mereka.

Generasi Strawberry Bukan Sekadar Rapuh, Mereka Korban Lingkungan yang Berubah

Label "strawberry" sering kali disematkan dengan nada merendahkan, seolah-olah generasi ini lemah secara bawaan. Padahal, karakteristik mereka adalah hasil dari perubahan sosial, teknologi, dan pola asuh yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Z tumbuh di dunia yang serba instan, di mana informasi tersedia dalam genggaman, tantangan fisik berkurang, dan ekspektasi kesuksesan dipengaruhi oleh kemewahan yang dipamerkan di media sosial. Mereka juga dibesarkan oleh orang tua yang dengan niat baik terlalu melindungi, sehingga minim memberi kesempatan anak menghadapi kegagalan. Jika mereka dianggap "tidak tahan banting", mungkin karena mereka tidak pernah dilatih untuk tahan banting sejak awal .

Faktor di Balik "Kerapuhan" Generasi Strawberry

1. Pola Asuh yang Terlalu Protektif Banyak orang tua Gen Z berasal dari generasi yang hidup dalam kesulitan ekonomi, sehingga mereka berusaha memberikan kenyamanan maksimal pada anak-anaknya. Sayangnya, hal ini sering berujung pada overparenting orang tua terlalu cepat menyelesaikan masalah anak, menghindarkan mereka dari konsekuensi, dan jarang membiarkan mereka gagal. Akibatnya, ketika memasuki dunia kerja di mana tekanan dan kritik adalah hal biasa Generasi Strawberry kaget. Mereka tidak terbiasa menghadapi konflik, sehingga cenderung menghindar atau memilih resign daripada berjuang . 2. Sistem Pendidikan yang Tidak Membangun Ketangguhan Sekolah dan kampus lebih fokus pada nilai akademis daripada melatih soft skills seperti manajemen stres, problem-solving, atau menerima kritik. Gen Z terbiasa dengan sistem yang menghargai hasil instan (nilai bagus, penghargaan) tanpa proses panjang yang penuh tantangan. Ketika di dunia kerja mereka dihadapkan pada proyek panjang dengan banyak revisi, kegagalan, dan tekanan deadline, banyak yang langsung merasa kewalahan . 3. Dampak Media Sosial dan Budaya "Healing" Instan Media sosial menciptakan ilusi kesuksesan yang instan dan sempurna. Gen Z terbiasa melihat konten highlight reel kehidupan orang lain karir cemerlang, gaji besar, liburan mewah tanpa melihat perjuangan di baliknya. Hal ini memicu ekspektasi tidak realistis. Selain itu, tren self-diagnosis kesehatan mental membuat banyak anak muda cepat memberi label pada diri sendiri seperti "Aku depresi", "Aku burnout" tanpa benar-benar memahami makna sebenarnya. Alih-alih mencari solusi, mereka memilih "healing" dengan melarikan diri dari masalah . 4. Ketidaksesuaian Ekspektasi vs. Realitas Dunia Kerja Generasi Strawberry tumbuh dengan narasi "ikuti passion-mu" dan "kerja harus menyenangkan". Mereka mencari fleksibilitas, pengakuan, dan work-life balance nilai yang tidak selalu sejalan dengan budaya kerja tradisional yang hierarkis dan penuh tekanan. Ketika perusahaan masih mempertahankan sistem kaku dengan atasan yang otoriter, konflik pun tak terhindarkan. Bukan berarti Gen Z salah, tapi terjadi mismatch antara nilai yang mereka anut dan tuntutan lingkungan kerja yang ada.

Daripada Menyalahkan, Lebih Baik Beradaptasi

Menyimpulkan bahwa Generasi Strawberry "kurang tangguh" adalah penyederhanaan masalah. Mereka adalah produk dari lingkungan yang berubah dimana tantangan fisik berkurang, tetapi tekanan mental meningkat. Solusinya bukan dengan mengkritik, melainkan dengan kolaborasi. Orang tua perlu melatih kemandirian anak sejak dini, membiarkan mereka gagal, dan tidak selalu menyelamatkan mereka dari konsekuensi. Sekolah dan kampus harus mengajarkan resilience, manajemen stres, dan cara menerima kritik secara sehat. Perusahaan bisa memanfaatkan kreativitas Gen Z dengan memberikan ruang berekspresi, feedback yang membangun, dan lingkungan kerja yang lebih inklusif. Gen Z juga perlu memahami bahwa "healing" bukan sekadar liburan, tapi juga kemampuan menghadapi masalah dengan strategi yang tepat . Generasi Strawberry bukanlah generasi yang lemah mereka hanya berbeda. Mereka kreatif, melek teknologi, dan berani menuntut perubahan di tempat kerja. Masalah "ketidaktangguhan" mereka lebih merupakan cerminan kegagalan sistem dalam mempersiapkan mereka menghadapi dunia nyata. Alih-alih memperdebatkan siapa yang salah, lebih baik kita berkolaborasi: generasi sebelumnya bisa memberikan bimbingan, sementara Gen Z membawa pembaruan. Dengan pendekatan yang tepat, buah stroberi yang rapuh bisa tumbuh menjadi tanaman yang kuat tidak mudah hancur, tapi tetap manis dan penuh potensi.

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/generasi-strawberry-di-dunia-kerja-kurang-tangguh-atau-salah-didik/83000/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #Dunia Kerja
  • #Generasi Strawberry
  • #Sistem Pendidikan
  • #media sosial

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ikuti Rapat DPRD Tuban, Pelajari Perdebatan Anggaran dan Prioritas R-APBD 2027

Sudah 15 Tahun Jadi Nasabah BRI, Keluarga Leni Setia di Bojonegoro Miliki 10 Rekening untuk Berbagai Kebutuhan

Pembangunan Ekonomi dan Ancaman Kerusakan Lingkungan, Sejauh Mana Hukum Indonesia Melindungi Alam?

Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

Pilihan Editor

  1. 1 Teknologi Sudah Tersedia, UPN Veteran Jatim Dorong Penguatan Literasi dan Keterbukaan Informasi Publik di Bondowoso
  2. 2

    Pasar Turi Baru Surabaya Hadirkan Beragam Kegiatan, Tak Sekadar Menjadi Pusat Perdagangan

  3. 3

    Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  4. 4

    Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

  5. 5

    Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.