Gunung mengajarkan sesuatu yang tidak bisa ditemukan di balik layar — bahwa kesunyian terasa lebih penuh dari keramaian mana pun. Di tengah malam seperti ini, suara nafas sendiri terdengar paling jujur. Dan entah kenapa, justru di kegelapan inilah segalanya terasa paling nyata. Dokumentasi: Mriska (22/2/25)
Oleh: Mriska Ersalia
JurnalPost.com - Di tengah hiruk pikuk rutinitas dan layar yang tak pernah padam, sebagian anak muda memilih berjalan menyusuri belantara menuju puncak untuk menenangkan diri. Menurut studi yang dilakukan oleh Rukmana (2024), aktivitas fisik seperti berjalan di ruang terbuka hijau telah terbukti memberikan manfaat psikologis yang signifikan, termasuk peningkatan kesejahteraan emosional dan penurunan gejala depresi. Langkah demi langkah, napas kian berat, mencium wangi kabut, memeluk sunyi yang begitu larut. Namun, di sinilah sebagian anak muda menemukan ketenangan yang sulit mereka jumpai di tengah notifikasi dan tenggat waktu. Bagi generasi Z yang tumbuh di antara layar dan tekanan sosial, gunung menjadi ruang untuk me time yang sesungguhnya.
Gunung Sebagai Ruang Refleksi
Mendaki menjadi sebuah proses dalam menyelami diri sendiri. Setiap langkah yang dipijak di jalur pendakian seakan menjadi medium refleksi, menjauhkan sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Mendaki gunung menawarkan pengalaman yang sulit didapat di tempat lain, ketiadaan sinyal, keharusan untuk hadir sepenuhnya, dan keindahan yang tidak bisa di-scroll. Setiap jalur pendakian adalah undangan untuk melambat, membuat sesuatu yang terasa mewah di era serba cepat ini. Gunung, dalam lanskap kehidupan modern, telah menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar hamparan alam yang menantang untuk ditaklukkan. Ia kini berdiri sebagai panggung pencapaian diri, simbol kebebasan yang tak terucap, dan cermin gaya hidup petualangan yang mengalir deras melalui arus media sosial.
Cerita Pendaki: Antara Ambisi, Healing, dan Fotografi
Saya mewawancarai tiga narasumber melalui sambungan telepon untuk menggali kisah mereka di balik langkah menuju puncak. Masing-masing membawa alasan yang berbeda. Mufid (21) yang terdorong oleh ambisi menaklukkan gunung, Kartika (21) yang ingin mencari ketenangan sebagai bentuk healing, dan MPN (21) yang menikmati setiap perjalanan lewat lensa, mengabadikan momen yang tak tergantikan. Meski dilakukan dari kejauhan, percakapan tersebut menghadirkan cerita yang hangat dan memperkaya sudut pandang dalam tulisan ini.
Bagi Mufid (21), mendaki ialah sebuah perjalanan yang terencana dan bertujuan. Ia memiliki wishlist gunung mana saja yang ingin ia taklukkan, “ndaki karna diajak temen aja sih awale. Tapi makin kesini malah pengen nakhlukin seven summits Jateng”, katanya. Ia mulai mendaki dari yang paling ramah pendaki hingga yang menuntut fisik prima. Satu dari sevent summits yang meninggalkan kesan mendalam ialah Sindoro. Sindoro dengan 3.136 mdpl berdiri kokoh di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, Jawa Tengah. Kledung, sebuah jalur yang bebatuannya, katanya seolah membuat lutut dan dagu saling menyentuh. Dimulai dari basecamp di Desa Kledung, Kecamatan Kledung, Temanggung (sekitar 1.600 mdpl), pendaki harus melewati empat pos resmi. Salah satu yang ikonik dari jalur ini ialah Watu Tatah, spot foto yang berlatar Gunung Sumbing.
Tentu, Sindoro via Kledung begitu dibicarakan oleh para pendaki karena medan berbatu curam di sepertiga akhir jalur menuju puncak. Batu-batu besar yang tersusun tidak beraturan memaksa pendaki untuk berjalan membungkuk tajam, mengandalkan tangan dan kaki secara bersamaan. Di sinilah kalimat Mufid tentang "lutut dan dagu yang saling menyentuh" menemukan maknanya yang paling nyata.
Berbeda dengan Mufid, menurut Kartika (21) puncak bukanlah tujuan. Baginya, gunung ialah tempat untuk sejenak melepaskan lelah di tengah rutinitas yang kian merebak, “naik gunung tu bisa dijadiin healing, terus juga sama pengen nikmati alam”. Setiap pendakian menjadi ritual healing yang selalu ia nantikan. Healing dengan mendaki, membuatnya menemukan sebuah ketenangan yang dicarinya, membuat terhindar dari kebisingan yang tak pernah benar-benar berhenti.
Sementara MPN (21), membawa perspektif lain yang berbeda dari keduanya. Ia mendaki untuk memotret sebuah momen yang tak akan pernah tergantikan di atas awan. Baginya, gunung adalah galeri alam yang selalu berubah. Langit malam selalu dipenuhi Bintang tanpa polusi udara, kabut pagi menyelimuti jalan, dan teriknya matahari yang hangatnya terasa nyata. Setiap jepretan Adalah caranya bercerita, menyimpan kenangan yang belum tentu bisa terulang. Melalui lensa ponselnya, ia tidak hanya merekam pemandangan, tetapi juga perasaan, suasana, dan kehadiran yang utuh di setiap perjalanan.
Dokumentasi: MPN (22/2/25)
Pada akhirnya, gunung tidak pernah benar-benar pergi kemana-mana. Ia hanya menunggu, tegak dalam diamnya, bagi siapa saja yang membutuhkan tempat untuk kembali pada diri sendiri. Entah itu Mufid yang mendaki demi menaklukkan puncak, Kartika yang mendaki untuk menyembuhkan, atau MPN yang mendaki untuk mengabadikan, semuanya menemukan satu hal yang sama bahwa di tengah kesunyian ketinggian, suara diri sendiri terdengar paling jelas. Mungkin itulah yang sesungguhnya dicari oleh generasi yang tumbuh di antara layar dan kebisingan ini. Mendaki bukan sekadar puncak yang bisa dijadikan konten, tetapi sebuah ruang yang memberi izin untuk berhenti, bernapas, dan sejenak menjadi diri sendiri tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapapun.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda