Sleman, JurnalPost.com — SMA Negeri 1 Pakem menyelenggarakan kegiatan bimbingan lintas kelas bertema konselor sebaya bagi siswa kelas XI, Jumat (11/9/2026), di Aula SMA Negeri 1 Pakem.
Kegiatan berdurasi sekitar 80 menit tersebut diikuti siswa kelas XI A, XI B, XI C, XI D, dan XI E. Pelaksanaan kegiatan melibatkan mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Bimbingan dan Konseling dengan pendampingan langsung dari Guru BK SMA Negeri 1 Pakem.
Program ini menjadi bagian dari layanan dasar Bimbingan dan Konseling yang diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian antarsiswa sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai cara memberikan dukungan kepada teman secara tepat.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan dengan konsep konselor sebaya, yaitu teman sebaya yang memiliki kepedulian, kemampuan mendengarkan, serta pemahaman mengenai batasan dalam memberikan dukungan kepada teman yang sedang menghadapi masalah.
Materi yang diberikan mencakup pengertian dan tujuan konselor sebaya, fungsi dan manfaatnya, peran yang dapat dilakukan, tanda-tanda teman yang membutuhkan dukungan, hingga etika ketika mendampingi teman.
Salah satu hal penting yang ditekankan adalah pemahaman mengenai batasan peran konselor sebaya.
Siswa diberikan pemahaman bahwa teman sebaya dapat menjadi pendengar dan memberikan dukungan awal, tetapi tidak bertugas menggantikan peran konselor profesional maupun Guru BK.
Apabila permasalahan yang dihadapi teman dinilai membutuhkan penanganan lebih lanjut, siswa diarahkan untuk membantu melakukan rujukan kepada Guru BK atau pihak lain yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.
Pembelajaran dilakukan melalui penyampaian materi secara klasikal yang dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk tidak hanya menerima materi, tetapi juga menyampaikan pandangan maupun pengalaman yang berkaitan dengan hubungan pertemanan.
Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat aktif menyimak dan terlibat dalam pembahasan mengenai bagaimana bersikap ketika teman menghadapi persoalan.
Diskusi juga menekankan pentingnya membangun sikap empati, tidak menghakimi, menjaga kerahasiaan dalam batas yang tepat, serta mampu mengenali kondisi yang memerlukan bantuan orang dewasa atau tenaga profesional.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan memahami bahwa menjadi teman yang peduli tidak selalu berarti harus mampu menyelesaikan seluruh persoalan orang lain.

Kemampuan untuk mendengarkan secara baik, memberikan dukungan, serta mengetahui kapan harus meminta bantuan menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pertemanan yang sehat.
Bagi sekolah, keberadaan konselor sebaya dapat menjadi bagian dari sistem dukungan psikososial di lingkungan pendidikan. Teman sebaya sering kali menjadi orang pertama yang mengetahui ketika seorang siswa sedang menghadapi tekanan maupun persoalan tertentu.
Dengan pemahaman yang tepat, siswa diharapkan dapat memberikan dukungan awal sekaligus membantu menghubungkan temannya dengan Guru BK apabila diperlukan.
Program tersebut juga dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Dalam konteks SDG 3, kegiatan diarahkan pada peningkatan kesadaran mengenai kesehatan mental dan dukungan psikososial di kalangan remaja. Sementara dalam kaitannya dengan SDG 4, program tersebut mendorong pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga pengembangan keterampilan sosial dan emosional siswa.
Kegiatan bimbingan lintas kelas ini menjadi tahap awal dalam pengembangan calon konselor sebaya di SMA Negeri 1 Pakem.
Sebagai tindak lanjut, siswa yang menunjukkan ketertarikan untuk terlibat sebagai konselor sebaya direncanakan mengikuti kegiatan bimbingan kelompok bersama Guru BK.
Dalam tahap tersebut, siswa akan memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai peran, etika, batasan, serta kesiapan yang diperlukan sebelum menjalankan fungsi sebagai konselor sebaya.
Tahapan berikutnya akan diarahkan pada pelatihan keterampilan dasar konseling atau micro skills. Materi ini diharapkan dapat membekali siswa dengan kemampuan dasar seperti mendengarkan aktif, merespons secara empatik, dan memberikan dukungan awal dengan tetap memahami batas kewenangannya.
Melalui pengembangan program secara bertahap, sekolah berharap dapat menumbuhkan budaya saling peduli di antara siswa sekaligus memperkuat peran layanan Bimbingan dan Konseling.
Keberadaan siswa yang memiliki kemampuan dasar dalam memberikan dukungan kepada teman diharapkan turut membantu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih nyaman, aman, dan terbuka terhadap persoalan kesehatan mental maupun sosial yang dihadapi peserta didik.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda