PANGKEP, JurnalPost.com— Kebakaran di kawasan karst Pangkep, Sulawesi Selatan, masih menjadi perhatian serius setelah sejumlah titik api baru terus bermunculan di sekitar permukiman warga. Hingga memasuki hari kelima penanganan, luas kawasan terdampak diperkirakan telah mencapai hampir 26 hektare dan sebagian kebakaran telah menjalar hingga zona inti Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul).
Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Abdul Rajab, mengatakan medan karst yang terjal membuat sebagian titik api sulit dijangkau petugas. Kondisi tersebut diperparah oleh tiupan angin yang cukup kencang sehingga bara dan material panas dapat berpindah ke lokasi lain.
“Titik api baru terus bermunculan dan beberapa berada cukup jauh dari titik awal. Medan karst dan angin yang cukup kencang menjadi tantangan utama dalam proses pemadaman,” kata Abdul Rajab.
Menurut dia, munculnya titik api baru di sekitar permukiman tidak hanya disebabkan rambatan api secara langsung.
Serasah, ranting, hingga bebatuan panas dari kawasan karst yang terbakar dapat jatuh ke bagian bawah dan kemudian memicu kebakaran baru pada vegetasi kering.
Kondisi tersebut membuat petugas harus membagi konsentrasi antara memadamkan api di kawasan yang masih dapat dijangkau dan menjaga agar kebakaran tidak merambat ke rumah-rumah warga.
Fokus Lindungi Permukiman Warga
Abdul Rajab menjelaskan, sebagian titik api berada di celah dan bagian atas tebing karst yang terlalu berisiko untuk dijangkau secara langsung.
Keselamatan personel menjadi pertimbangan sehingga petugas tidak dapat memaksakan pemadaman di lokasi dengan tebing terjal.
“Ada titik yang memang tidak memungkinkan untuk dipanjat karena sangat berbahaya bagi personel. Karena itu, fokus utama sekarang adalah mengamankan kawasan sekitar permukiman,” ujarnya.
Sekitar 30 personel Manggala Agni bersama dukungan personel dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I dan II terus melakukan penanganan di lapangan.
Untuk area yang masih dapat dijangkau, petugas menggunakan mesin pompa dan selang air. Sementara di lokasi yang lebih jauh dan sulit diakses, pemadaman dilakukan menggunakan jet shooter.
Namun, banyaknya titik api yang tersebar membuat personel tidak dapat menangani seluruh lokasi secara bersamaan.
Luas Kebakaran Meningkat Jadi Hampir 26 Hektare
Pada hari pertama kejadian, luas kebakaran diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 15 hektare.
Seiring munculnya titik-titik baru dan kondisi angin yang mendorong penyebaran api, luas kawasan terdampak kini diperkirakan hampir mencapai 26 hektare.
Kebakaran juga telah melintasi beberapa zona di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung.
“Dari zona rimba, kebakaran sudah melintasi beberapa bagian hingga mencapai area zona inti,” kata Abdul Rajab.
Meski demikian, kebakaran hingga kini disebut masih terisolasi di sekitar kawasan Minasa Te'ne dan belum dilaporkan merambah ke wilayah lainnya.
Petugas tetap melakukan pemantauan karena arah penyebaran api dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi angin.
Manggala Agni Daops Gowa Diminta Tambah Personel
Untuk memperkuat operasi pemadaman, pihak TN Bantimurung Bulusaraung telah berkoordinasi dengan Manggala Agni Daops Gowa.
Tambahan personel diperlukan untuk membantu menangani sejumlah titik yang tersebar, terutama di lokasi yang berdekatan dengan permukiman.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Manggala Agni Daops Gowa. Dengan adanya tambahan personel, diharapkan penanganan titik api bisa semakin maksimal,” ujar Abdul Rajab.
Selain dukungan petugas, keterlibatan masyarakat sekitar juga dinilai penting.
Warga di sekitar kawasan diminta waspada terhadap kemungkinan munculnya bara atau titik api baru, terutama yang berasal dari material terbakar yang jatuh dari bagian atas karst.
Abdul Rajab berharap masyarakat segera melaporkan apabila menemukan api atau asap di sekitar permukiman sehingga petugas dapat melakukan penanganan lebih cepat.
Pemadaman Bergantung Cuaca
Hingga kini belum dapat dipastikan kapan seluruh titik api bisa benar-benar dipadamkan.
Kondisi medan membuat sejumlah titik di bagian puncak maupun celah karst praktis tidak dapat dijangkau menggunakan peralatan pemadaman dari darat.
Karena itu, kondisi cuaca menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan.
“Kami berharap angin bisa segera mereda. Kalau turun hujan tentu sangat membantu untuk memadamkan titik-titik api di bagian atas yang sulit dijangkau,” kata Abdul Rajab.
Selama kondisi tersebut belum terjadi, operasi pemadaman tetap diarahkan pada lokasi yang dapat dijangkau sekaligus memperkuat perlindungan terhadap permukiman warga.
Petugas juga terus melakukan patroli untuk mendeteksi titik api baru sedini mungkin.
Dengan luas kebakaran yang telah mendekati 26 hektare dan api telah mencapai sebagian zona inti taman nasional, upaya penanganan diperkirakan masih terus berlangsung sampai seluruh kawasan dipastikan aman dari potensi kebakaran susulan.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda