Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  2. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  3. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  4. Mendukung Sustainable Development Goals, Dosen UM Ungkap Faktor Risiko Kehamilan yang Perlu Diwaspadai

  5. Edukasi Video HIMA-CARE Tingkatkan Perilaku Higiene Menstruasi Mahasiswi Baru di Kota Malang

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. “Ibu, Kenapa Langit Tak Lagi Biru?”

“Ibu, Kenapa Langit Tak Lagi Biru?”

Foto profil Annisa
Editor: Annisa
17 September 2026, 12.28 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
6 menit baca
Ibu, Kenapa Langit Tak Lagi Biru

Oleh: Endhika Anjani Antaresty dan Az-Zahra Syifa Izzati

Catatan kecil untuk Kalimantan, tentang anak-anak, hutan, dan dua orangutan yang hanya ingin pulang.

IKLAN

Berapa harga yang harus dibayar setiap tahun agar anak-anak tetap dapat menghirup udara tanpa ketakutan?

Berapa harga sebatang pohon yang ditebang diam-diam, jika yang tumbang bukan hanya kayu, melainkan juga masa depan yang ingin mereka genggam kelak?

Dan berapa banyak penjelasan yang harus keluar dari mulut seorang ibu ketika mendengar pertanyaan sederhana dari anaknya:

“Ibu, kenapa langit tak lagi biru?”

Di Kalimantan, langit berkali-kali belajar menjadi kelabu.

Asap merambat dari rimba, menyusup ke rumah-rumah, sekolah, dan paru-paru yang masih terlalu kecil untuk memahami mengapa udara tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Api menjalar dari semak ke semak, dari lahan ke lahan. Sementara anak-anak menatap langit yang seharusnya biru, tetapi kini dipenuhi jelaga dan kabut kecemasan.

Anak-anak itu sesungguhnya tidak pernah meminta banyak.

Mereka mungkin hanya ingin berlari tanpa terbatuk, bermain tanpa sesak, dan tidur tanpa masker yang menutup rapat wajah mungil mereka. Mereka ingin mengenal hujan sebagai hujan, bukan sebagai harapan bahwa asap yang memenuhi udara akan segera reda.

Bukankah bermain dan berlari memang dunia mereka?

Mereka ingin melihat burung kembali ke dahan, bukan menyaksikan hutan berubah menjadi abu yang kehilangan arah dan rumah.

Lalu, berapa harga yang harus dibayar?

Apakah cukup dengan masker yang dibagikan ketika udara telah tercemar?

Apakah cukup dengan imbauan agar anak-anak tetap berada di rumah ketika sekolah seharusnya menjadi tempat mereka mengejar cita-cita?

Atau kita justru membiarkan mereka tetap bersekolah atas nama amanat pendidikan, meski udara yang mereka hirup sudah jauh dari layak?

Apakah semuanya cukup diselesaikan dengan angka-angka dalam laporan, konferensi pers, serta kalimat-kalimat gagah tentang penanggulangan bencana, sementara di balik semua itu paru-paru anak-anak tetap menjadi ruang paling sunyi yang menanggung akibat dari keserakahan?

Kita terlalu sering menghitung nilai kayu, tetapi lupa menghitung nilai udara.

Kita terlalu pandai menghitung luas lahan, tetapi gagap menghitung berapa banyak napas yang harus dipertaruhkan ketika asap memenuhi langit.

Ketika hutan terbakar, yang hangus bukan hanya batang dan ranting.

Yang ikut terbakar adalah hak anak-anak untuk tumbuh dengan udara yang layak, hak burung untuk kembali ke sarangnya, hak sungai untuk terus mengalir, dan hak manusia untuk menjalani hidup tanpa harus berdamai dengan asap yang datang berulang kali.

Betapa menyedihkan ketika anak-anak yang bahkan belum mampu mengeja kata eksploitasi harus lebih dulu belajar mengeja kata evakuasi.

Mereka yang belum memahami arti deforestasi justru lebih dahulu mengenal arti sesak napas melalui tubuh mereka sendiri.

Namun, apakah kita hanya akan melihat semua ini dari sudut pandang manusia?

Bagaimana dengan mereka yang tak mampu bersuara?

Raya dan Rayu, Dua Penghuni Hutan yang Kehilangan Rumah

Ada satu hal yang terkadang sulit dipahami: mengapa manusia begitu sering datang setelah semuanya terlambat.

Ketika hutan masih hijau, perhatian begitu mudah berpaling.

Ketika pohon-pohon masih berdiri, manusia sibuk menghitung berapa banyak yang dapat diambil.

Lalu api datang.

Dan setelah itu, manusia berdatangan membawa kamera, selimut, kandang, serta berita tentang penyelamatan.

Di tengah cerita itulah terdapat Raya dan Rayu.

Raya adalah induk orangutan yang ditemukan bersama anaknya, Rayu, ketika proses evakuasi berlangsung.

Pada 2 September 2026, keduanya ditemukan bertahan di atas pohon di kawasan Hutan Kota Sampit, Kalimantan Tengah, ketika wilayah tersebut terdampak kebakaran hutan dan lahan.

Raya diperkirakan berusia sekitar 20 tahun, sedangkan Rayu baru berumur sekitar satu tahun. Keduanya kemudian dievakuasi oleh tim BKSDA Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International.

Ada sesuatu yang begitu dekat dengan kehidupan manusia dalam kisah mereka.

IKLAN

Di tengah kepungan asap, Raya tidak mempunyai banyak pilihan untuk membawa Rayu pergi.

Ia tidak bisa menelepon pemadam kebakaran.

Ia tidak mampu meminta pertolongan.

Ia tidak bisa menunjuk siapa yang menyalakan api.

Ia hanya dapat bertahan sembari mendekap anaknya, menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perlindungan terakhir.

Barangkali Rayu belum mengerti mengapa rumahnya berubah menjadi asap.

Barangkali ia belum memahami mengapa pohon-pohon yang selama ini menjadi tempat bermain tiba-tiba menjadi tempat berlindung dari ancaman yang seharusnya tidak pernah hadir.

Ia mungkin hanya mengetahui satu hal: ibunya masih ada.

Dan mungkin, pada saat itu, keberadaan sang ibu sudah cukup membuatnya bertahan.

Jangan Hanya Datang Setelah Semuanya Terbakar

Ironisnya, manusia yang merasa paling berkuasa atas hutan justru menjadi makhluk yang paling sering berkata bahwa hutan harus diselamatkan.

Kita menyelamatkan orangutan setelah habitatnya terbakar.

Kita membagikan masker setelah udara tercemar.

Kita mengevakuasi warga setelah asap memasuki permukiman.

Kita menanam pohon setelah hutan kehilangan sebagian dirinya.

Kemudian semua itu disebut sebagai penanganan.

Padahal, kisah Raya dan Rayu seharusnya tidak berhenti pada kalimat, “akhirnya diselamatkan”.

Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Siapa yang membakar hutan kami?”

Pertanyaan itu seharusnya tidak menguap bersama asap.

Kalimantan tidak membutuhkan belas kasihan yang baru datang ketika api sudah membesar.

Kalimantan membutuhkan keberanian untuk mencegah api sebelum membara. Membutuhkan hukum yang ditegakkan tanpa pandang bulu, pengawasan yang tidak tertidur ketika ancaman mulai muncul, serta kebijakan yang benar-benar menempatkan keselamatan manusia dan keberlangsungan ekosistem sebagai sesuatu yang diperhitungkan.

Sebab, apa gunanya pertumbuhan ekonomi jika udara untuk bernapas justru terasa semakin mahal?

Apa gunanya angka investasi meningkat jika kesehatan manusia dan keberlangsungan alam harus menjadi harganya?

Apa gunanya pembangunan disebut berhasil jika masyarakat terus menghitung berapa hari mereka harus menutup jendela karena asap kembali menghitamkan udara?

Mereka Hanya Ingin Pulang

Malam itu, mungkin Rayu tidur di tempat yang asing.

Ia mungkin masih mencari suara hutan yang selama ini dikenalnya.

Mungkin ia belum memahami mengapa ibunya terus mendekapnya lebih erat.

Sementara di tempat lain, manusia kembali menjalani kehidupan seperti biasa—menyalakan pendingin ruangan, membuka ponsel, bekerja, bercanda, dan sesekali mengeluhkan panasnya cuaca.

Lalu kita mungkin lupa bahwa jauh sebelum asap mencapai kota, ada makhluk-makhluk lain yang lebih dahulu kehilangan langit mereka.

Raya tidak meminta belas kasihan.

Rayu pun tidak meminta manusia merasa bersalah.

Dan barangkali anak-anak Kalimantan juga tidak ingin memahami apa itu “eksploitasi” sebelum mulut mereka cukup fasih untuk melafalkannya.

Mereka tidak meminta terlalu banyak.

Anak-anak ingin kembali melihat langit biru.

Raya ingin membawa anaknya kembali ke hutan.

Rayu ingin kembali mengenal pohon sebagai rumah, bukan sebagai tempat terakhir untuk berlindung dari api.

Mereka hanya ingin pulang.

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/ibu-kenapa-langit-tak-lagi-biru/97727/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 22.54 WITA

  • #Kebakaran Hutan
  • #Lingkungan
  • #bencana kabut asap
  • #bksda
  • #deforestasi
  • #kalimantan
  • #orangutan

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

Ketika Utang Menjadi Alat Tekanan: Saat Perjanjian Lahir dari Ketakutan dan Ketidakberdayaan

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

Guru yang Terus Mengajar, Siapa yang Menjaga Semangatnya? Menelaah Motivasi Kerja di Institusi Pendidikan

Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri? Mengapa Transparansi Kontribusi Mahasiswa Perlu Diperkuat

Pilihan Editor

  1. 1 Saat Pasar Sepi Pembeli, Pasar.id BRI Bojonegoro Jadi Peluang Pedagang Menjangkau Pelanggan Baru
  2. 2

    Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

  3. 3

    Putusan MA 19 P/HUM/2026, Sekjen MDP-WATCH Desak Menkes Evaluasi dan Rombak Keanggotaan MDP

  4. 4

    Resmi Dilantik, BPC GMKI Singaraja Periode 2026–2027 Fokus Kuatkan Kaderisasi dan Kolaborasi

  5. 5

    Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.