Lewati ke konten utama
Home About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Publikasi Media Online Jasa Backlink Jasa Guest Post Penulisan Artikel Pembuatan Website Pedoman AI
ID | EN

Masuk / Gabung

Jelajahi

Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi
Informasi
About Us Redaksi Kirim Berita Media Kit
Pedoman
Kebijakan Cookie Pedoman Media Siber Pedoman AI
Masuk / Gabung
Ikuti kami
EN ARTIKEL
Beranda Internasional Nasional Daerah Featured Opini Pendidikan
More
Profil Advertorial Bisnis Press Release Essay English Version Ekonomi

Terbaru

  1. Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

  2. Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

  3. UI Dorong Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Desa Tembok Bali

  4. Aset Publik Bukan Milik Pribadi: Memahami Aturan Hukum Pengelolaan Barang Milik Negara dan Daerah

  5. Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

  1. Beranda
  2. Kolom Opini
  3. Nusantara dalam Kabut Bencana: Ancaman Abu Vulkanik, Karhutla, dan Kesehatan Masyarakat

Nusantara dalam Kabut Bencana: Ancaman Abu Vulkanik, Karhutla, dan Kesehatan Masyarakat

Foto profil Rafi Adinata
Editor: Rafi Adinata
08 September 2026, 11.42 WITA Editor: Tim Editor JurnalPost
7 menit baca
mitigasi bencana abu vulkanik dan karhutla
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kepulan asap tebal serta mengancam kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Ilustrasi/JurnalPost.

Jakarta, JurnalPost.com — Indonesia kembali menghadapi ironi bencana yang terus berulang. Ketika sejumlah gunung api menunjukkan peningkatan aktivitas dan abu vulkanik mengancam permukiman warga, sebagian wilayah lain harus menghadapi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang menyebarkan asap serta memperburuk kualitas udara.

Menurut dr. Tedy Hartono, S.H., M.C.S., kondisi tersebut tidak cukup dipandang semata-mata sebagai rangkaian peristiwa alam. Bencana yang terus berulang juga harus menjadi bahan evaluasi terhadap kesiapan mitigasi, tata kelola lingkungan, pelayanan kesehatan, hingga kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam melindungi kelompok rentan.

IKLAN

“Fenomena ini bukan lagi sekadar peristiwa alam biasa, melainkan cerminan bahwa tata kelola mitigasi bencana harus terus diperkuat dan semakin matang dari waktu ke waktu,” kata dr. Tedy Hartono.

Foggy Balcony Overlooking Construction Site
Baca Juga

Napas Warga Sumatera Selatan Terancam: ISPA Melonjak Seiring Pekatnya Kabut Asap

Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Kondisi geografis tersebut membuat aktivitas vulkanik menjadi bagian dari risiko alam yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.

Namun, menurut Tedy, risiko bencana tidak selalu harus berujung pada besarnya jumlah korban maupun kerugian sosial. Dampaknya dapat ditekan melalui sistem mitigasi yang kuat, penyampaian informasi yang cepat, edukasi publik, kesiapan jalur evakuasi, serta fasilitas kesehatan yang mampu merespons peningkatan kebutuhan masyarakat.

“Aktivitas vulkanik merupakan konsekuensi geografis yang tidak dapat kita hindari. Tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui mitigasi yang kuat, edukasi publik yang memadai, dan kesiapan layanan kesehatan yang merata,” ujarnya.

Karhutla memiliki persoalan berbeda. Jika letusan gunung api berkaitan dengan proses geologi alamiah, kebakaran hutan dan lahan dalam banyak kasus juga berhubungan dengan aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan serta lemahnya pengawasan terhadap wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.

Kebakaran hutan
Baca Juga

Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan terhadap Manusia, Penegakan Hukum, serta Solusi Penanggulangannya

Menurut Tedy, perbedaan tersebut penting dipahami karena pendekatan penanggulangannya juga tidak bisa disamakan.

“Berbeda dengan letusan gunung api yang merupakan proses alamiah, sebagian kebakaran hutan dan lahan berakar pada aktivitas manusia. Karena itu, pencegahan dan pengawasan harus mendapatkan perhatian yang jauh lebih serius,” katanya.

Bencana Bukan Hanya Soal Kerusakan Fisik

Dampak bencana tidak berhenti pada rumah rusak, lahan tertutup abu, atau hutan yang terbakar.

Ketika gunung api erupsi, masyarakat di kawasan rawan dapat terpaksa meninggalkan rumah, lahan pertanian, ternak, hingga sumber penghidupan mereka. Pengungsian yang berlangsung selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu berpotensi memunculkan persoalan sosial baru.

asap
Baca Juga

Rakyat Meminta Tolong! Kalimantan Dibakar, Bukan Terbakar

Kepadatan tempat pengungsian, keterbatasan air bersih, sanitasi, terhentinya aktivitas pendidikan anak, hingga tekanan psikologis akibat ketidakpastian menjadi bagian dari persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Karhutla juga memberikan tekanan sosial dan ekonomi yang besar. Saat asap menyelimuti suatu wilayah, aktivitas masyarakat dapat terganggu. Sekolah mungkin perlu menyesuaikan kegiatan belajar, perjalanan menjadi terbatas, transportasi udara dapat terdampak, sementara kegiatan ekonomi masyarakat ikut melambat.

Kelompok pekerja dengan pendapatan harian menjadi salah satu pihak yang paling rentan. Pedagang kecil dapat kehilangan pembeli, pekerja lapangan harus menghadapi paparan udara buruk, sedangkan petani berisiko mengalami gangguan produksi.

“Dampak bencana bukan hanya dihitung dari berapa rumah yang rusak atau berapa hektare lahan yang terbakar. Kita juga harus melihat kehidupan masyarakat yang terganggu, pendidikan anak-anak, pendapatan keluarga, sampai tekanan psikologis para pengungsi,” tutur Tedy.

Jika bencana seperti ini terus terjadi secara berulang, dampaknya bukan hanya kerugian sesaat. Dalam jangka panjang, masyarakat yang sebelumnya telah berada dalam kondisi ekonomi rentan dapat semakin sulit memulihkan kehidupannya.

Ancaman Serius bagi Kesehatan

Dari perspektif kesehatan masyarakat, dr. Tedy Hartono menilai paparan abu vulkanik dan asap karhutla membutuhkan perhatian serius.

Partikel-partikel berukuran kecil yang terdapat di udara dapat masuk ke saluran pernapasan. Risiko kesehatan menjadi lebih tinggi ketika seseorang terpapar dalam waktu lama atau memiliki penyakit tertentu.

“Di balik kerugian ekonomi dan sosial, salah satu ancaman terbesar adalah kesehatan masyarakat. Abu vulkanik maupun asap karhutla mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan berdampak pada kesehatan, terutama jika paparannya berlangsung terus-menerus,” kata Tedy.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu memperoleh perlindungan lebih besar. Sistem pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan sehingga paparan udara yang buruk dapat memicu batuk, iritasi mata, gangguan pernapasan, hingga memperburuk kondisi asma pada anak yang memiliki riwayat penyakit tersebut.

Buruknya kualitas udara juga dapat membatasi aktivitas fisik anak serta mengganggu proses pembelajaran apabila sekolah maupun kegiatan masyarakat harus dibatasi.

Pada orang dewasa, paparan debu dan asap dapat memunculkan keluhan berupa batuk, sesak napas, iritasi mata dan tenggorokan, sakit kepala, serta penurunan kenyamanan maupun produktivitas kerja.

Risiko menjadi lebih tinggi bagi pekerja yang harus berada di luar ruangan dalam waktu lama.

IKLAN

Sementara itu, lansia memerlukan perhatian khusus karena sebagian telah memiliki penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, maupun penyakit paru kronis. Memburuknya kualitas udara dapat memperberat kondisi kesehatan yang sebelumnya sudah ada.

“Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit paru dan jantung harus menjadi prioritas perlindungan. Pada kelompok lansia, misalnya, paparan asap dan debu dapat memperburuk penyakit penyerta yang telah mereka alami,” jelasnya.

Lima Langkah Perlindungan Kesehatan

Dalam menghadapi paparan abu vulkanik maupun asap karhutla, Tedy mengingatkan masyarakat untuk melakukan sejumlah langkah perlindungan sederhana.

Pertama, menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang baik, seperti N95 atau perlindungan setara, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan pada saat kualitas udara buruk.

“Masker kain biasa memiliki kemampuan yang terbatas untuk menyaring partikel halus. Ketika paparan abu atau asap cukup berat, gunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang lebih baik seperti N95 atau yang setara,” kata Tedy.

Kedua, membatasi aktivitas di luar rumah. Jika kondisi udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi paparan secara langsung dan sebisa mungkin berada di dalam ruangan yang terlindung dari masuknya asap maupun debu.

Ketiga, mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Konsumsi air yang cukup penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan kelembapan saluran pernapasan.

Keempat, melindungi mata dan menjaga kebersihan. Penggunaan kacamata pelindung dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan debu. Setelah beraktivitas di luar rumah, wajah, tangan, serta bagian tubuh yang terpapar sebaiknya segera dibersihkan dan pakaian diganti.

Kelima, memperhatikan kelompok rentan. Bayi, ibu hamil, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung maupun paru harus mendapatkan perhatian lebih besar.

“Apabila mulai muncul sesak napas, batuk berat, atau kondisi tubuh menurun, terlebih pada kelompok rentan, jangan menunggu sampai kondisinya memburuk. Segera mencari pertolongan di fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Saatnya Belajar dari Bencana

Pada akhirnya, Indonesia tidak mungkin sepenuhnya menghindari ancaman bencana alam. Posisi geografis dan kondisi geologis menjadikan risiko gempa, letusan gunung api, banjir, maupun berbagai bencana lain sebagai bagian dari kehidupan Nusantara.

Namun, besarnya dampak sebuah bencana sangat ditentukan oleh kesiapan manusia dalam menghadapinya.

Mitigasi tidak boleh hanya dilakukan ketika gunung telah meletus, ketika api telah membakar ribuan hektare lahan, atau ketika masyarakat mulai memenuhi fasilitas kesehatan.

Pencegahan dan kesiapsiagaan harus dimulai jauh sebelum kondisi darurat terjadi.

“Bencana tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang konsisten, kesiapan pelayanan publik, dan kesiapsiagaan masyarakat,” kata dr. Tedy Hartono.

Pemerintah membutuhkan pengawasan lingkungan yang konsisten, sistem peringatan dini yang efektif, layanan kesehatan yang siap, koordinasi antarlembaga, serta edukasi kebencanaan yang dapat dipahami masyarakat.

Pada saat yang sama, pembangunan tidak seharusnya hanya dinilai melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Keselamatan manusia, kualitas lingkungan, ketahanan kesehatan masyarakat, serta kemampuan suatu wilayah menghadapi bencana juga harus menjadi indikator penting pembangunan.

Menurut Tedy, setiap bencana seharusnya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kelemahan dan memperbaiki sistem, bukan sekadar menjalankan pola tanggap darurat yang sama setiap tahun.

“Pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Keselamatan manusia juga harus menjadi ukuran keberhasilan pembangunan,” tegasnya.

Ketika abu vulkanik dan asap kebakaran kembali menutupi langit Nusantara, persoalan yang harus dijawab bukan hanya bagaimana memadamkan api atau mengevakuasi masyarakat.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa tragedi serupa masih menimbulkan dampak besar setiap kali kembali terjadi.

Tedy menegaskan bahwa kemampuan bangsa untuk belajar dari pengalaman menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.

“Bencana alam mungkin tidak dapat dihentikan. Tetapi kegagalan belajar dari pengalaman adalah bencana yang sepenuhnya berada dalam kendali manusia,” pungkas dr. Tedy Hartono, S.H., M.C.S.

ENGLISH VERSION Artikel tersedia dalam Bahasa Inggris
Read in English →

Sumber artikel: https://www.jurnalpost.kolomopini.com/nusantara-dalam-kabut-bencana-ancaman-abu-vulkanik-karhutla-dan-kesehatan-masyarakat/97619/

Dicetak dari JurnalPost.com pada 03 November 2026, 23.37 WITA

  • #Abu Vulkanik
  • #Lingkungan
  • #cincin api pasifik
  • #dr. Tedy Hartono
  • #karhutla
  • #kesehatan masyarakat
  • #mitigasi bencana

Bagikan artikel

Bagikan Mengirim Tweet
JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke Instagram

Menyiapkan 5 slide Reel 9:16…

Rangkaian slide vertikal sedang disusun dari artikel ini.

Konten belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide Instagram JurnalPost 1/5
REEL 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun dalam area aman Reels. Tambahkan musik pilihan Anda setelah masuk ke Instagram.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu Instagram, pilih Reel, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik yang tersedia di Instagram.

JURNALPOST SOCIAL PUBLISHER

Posting ke TikTok

Menyiapkan 5 slide TikTok 9:16…

Desain Social Publisher sedang disusun dari artikel ini.

Konten TikTok belum dapat disiapkan.

Silakan coba kembali.

Pratinjau slide TikTok JurnalPost 1/5
TIKTOK 9:16 · 5 SLIDE

Konten JurnalPost

Lima slide vertikal sudah disusun: sampul, inti berita, fakta utama, perkembangan, dan baca lengkap.

Menyiapkan lima file gambar 9:16…

Di menu berbagi, pilih TikTok, pertahankan urutan 1–5, lalu tambahkan musik atau suara di aplikasi. Jika TikTok tidak muncul, gunakan unduh manual.

Komentar 0

Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda

Komentar akan tampil setelah disetujui redaksi.

  1. Belum ada komentar. Jadilah yang pertama menyampaikan tanggapan.

Artikel Terkait

Pernah Mencari “Sakit Kepala Sebelah” di Google, Lalu Takut Umur Tinggal Setahun?

Kepemimpinan Bukan Sekadar Janji Besar, Rakyat Menunggu Hasil Nyata dari Pemerintah

Ketika Negara Gagal Menjaga Napas Warganya

Dari Instruksi ke Implementasi: Menguji Respons Kepemimpinan Presiden Prabowo dalam Penanganan Karhutla 2026

REKOMENDASI JURNALPOST

Pilihan Untukmu

Jangan Terus Menyalahkan Guru atas Rusaknya Karakter Anak, Ada Paradoks Mutu Pendidikan yang Sering Diabaikan

Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi di Era Digital, Kenali Risiko dan Cara Melindunginya

UPN Veteran Jawa Timur Dampingi Pemerintah Desa Segorotambak Sidoarjo Perkuat Tertib Administrasi dan Pelayanan Publik

Digitalisasi Bank Syariah Permudah Transaksi, Keamanan Data Nasabah Jadi Tantangan Utama

Pilihan Editor

  1. 1 Warung Padang di Bojonegoro Kini Terima QRIS BRI, Pembeli Lebih Praktis
  2. 2

    Warga Sampetan Belajar Kelola Lampu Jalan Tenaga Surya Berbasis IoT Bersama Dosen Polines

  3. 3

    Ibu Rumah Tangga di Bojonegoro Buka Usaha BRILink, Tambah Penghasilan

  4. 4

    Jangan Asal Sebar Angket! Pentingnya Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Menjamin Kualitas Instrumen Penelitian

  5. 5

    DP3AKB Sidoarjo Gelar FGD Evaluasi Peta Jalan Pembangunan Kependudukan 2025–2029, Perkuat Koordinasi Antar-OPD

IKLAN
JurnalPost

Media Publikasi Indonesia yang menyediakan informasi terkini. Situs ini didirikan pada tahun 2015 dan telah menjadi salah satu sumber berita yang populer di Indonesia.

Jelajahi

Advertorial Artikel Berita Bisnis Citizen Reporter Daerah Ekonomi English Version Essay Featured
Hukum Internasional Kolom Opini Nasional Olahraga Pendidikan Politik Profil Teknologi Wisata

Kanal

About Us Jurnalisme Warga Kebijakan Cookie Kebijakan Data Kirim Opini Kirim Tulisan Media Kit Pedoman Redaksi

Ikuti kami di

Facebook X/Twitter Instagram Threads TikTok Pinterest LinkedIn YouTube
© 2026 - PT Jurnal Post Indonesia. All Rights Reserved.