Jakarta, JurnalPost.com — Indonesia kembali menghadapi ironi bencana yang terus berulang. Ketika sejumlah gunung api menunjukkan peningkatan aktivitas dan abu vulkanik mengancam permukiman warga, sebagian wilayah lain harus menghadapi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang menyebarkan asap serta memperburuk kualitas udara.
Menurut dr. Tedy Hartono, S.H., M.C.S., kondisi tersebut tidak cukup dipandang semata-mata sebagai rangkaian peristiwa alam. Bencana yang terus berulang juga harus menjadi bahan evaluasi terhadap kesiapan mitigasi, tata kelola lingkungan, pelayanan kesehatan, hingga kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam melindungi kelompok rentan.
“Fenomena ini bukan lagi sekadar peristiwa alam biasa, melainkan cerminan bahwa tata kelola mitigasi bencana harus terus diperkuat dan semakin matang dari waktu ke waktu,” kata dr. Tedy Hartono.
Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Kondisi geografis tersebut membuat aktivitas vulkanik menjadi bagian dari risiko alam yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.
Namun, menurut Tedy, risiko bencana tidak selalu harus berujung pada besarnya jumlah korban maupun kerugian sosial. Dampaknya dapat ditekan melalui sistem mitigasi yang kuat, penyampaian informasi yang cepat, edukasi publik, kesiapan jalur evakuasi, serta fasilitas kesehatan yang mampu merespons peningkatan kebutuhan masyarakat.
“Aktivitas vulkanik merupakan konsekuensi geografis yang tidak dapat kita hindari. Tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui mitigasi yang kuat, edukasi publik yang memadai, dan kesiapan layanan kesehatan yang merata,” ujarnya.
Karhutla memiliki persoalan berbeda. Jika letusan gunung api berkaitan dengan proses geologi alamiah, kebakaran hutan dan lahan dalam banyak kasus juga berhubungan dengan aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan serta lemahnya pengawasan terhadap wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
Menurut Tedy, perbedaan tersebut penting dipahami karena pendekatan penanggulangannya juga tidak bisa disamakan.
“Berbeda dengan letusan gunung api yang merupakan proses alamiah, sebagian kebakaran hutan dan lahan berakar pada aktivitas manusia. Karena itu, pencegahan dan pengawasan harus mendapatkan perhatian yang jauh lebih serius,” katanya.
Bencana Bukan Hanya Soal Kerusakan Fisik
Dampak bencana tidak berhenti pada rumah rusak, lahan tertutup abu, atau hutan yang terbakar.
Ketika gunung api erupsi, masyarakat di kawasan rawan dapat terpaksa meninggalkan rumah, lahan pertanian, ternak, hingga sumber penghidupan mereka. Pengungsian yang berlangsung selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu berpotensi memunculkan persoalan sosial baru.
Kepadatan tempat pengungsian, keterbatasan air bersih, sanitasi, terhentinya aktivitas pendidikan anak, hingga tekanan psikologis akibat ketidakpastian menjadi bagian dari persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Karhutla juga memberikan tekanan sosial dan ekonomi yang besar. Saat asap menyelimuti suatu wilayah, aktivitas masyarakat dapat terganggu. Sekolah mungkin perlu menyesuaikan kegiatan belajar, perjalanan menjadi terbatas, transportasi udara dapat terdampak, sementara kegiatan ekonomi masyarakat ikut melambat.
Kelompok pekerja dengan pendapatan harian menjadi salah satu pihak yang paling rentan. Pedagang kecil dapat kehilangan pembeli, pekerja lapangan harus menghadapi paparan udara buruk, sedangkan petani berisiko mengalami gangguan produksi.
“Dampak bencana bukan hanya dihitung dari berapa rumah yang rusak atau berapa hektare lahan yang terbakar. Kita juga harus melihat kehidupan masyarakat yang terganggu, pendidikan anak-anak, pendapatan keluarga, sampai tekanan psikologis para pengungsi,” tutur Tedy.
Jika bencana seperti ini terus terjadi secara berulang, dampaknya bukan hanya kerugian sesaat. Dalam jangka panjang, masyarakat yang sebelumnya telah berada dalam kondisi ekonomi rentan dapat semakin sulit memulihkan kehidupannya.
Ancaman Serius bagi Kesehatan
Dari perspektif kesehatan masyarakat, dr. Tedy Hartono menilai paparan abu vulkanik dan asap karhutla membutuhkan perhatian serius.
Partikel-partikel berukuran kecil yang terdapat di udara dapat masuk ke saluran pernapasan. Risiko kesehatan menjadi lebih tinggi ketika seseorang terpapar dalam waktu lama atau memiliki penyakit tertentu.
“Di balik kerugian ekonomi dan sosial, salah satu ancaman terbesar adalah kesehatan masyarakat. Abu vulkanik maupun asap karhutla mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan berdampak pada kesehatan, terutama jika paparannya berlangsung terus-menerus,” kata Tedy.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu memperoleh perlindungan lebih besar. Sistem pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan sehingga paparan udara yang buruk dapat memicu batuk, iritasi mata, gangguan pernapasan, hingga memperburuk kondisi asma pada anak yang memiliki riwayat penyakit tersebut.
Buruknya kualitas udara juga dapat membatasi aktivitas fisik anak serta mengganggu proses pembelajaran apabila sekolah maupun kegiatan masyarakat harus dibatasi.
Pada orang dewasa, paparan debu dan asap dapat memunculkan keluhan berupa batuk, sesak napas, iritasi mata dan tenggorokan, sakit kepala, serta penurunan kenyamanan maupun produktivitas kerja.
Risiko menjadi lebih tinggi bagi pekerja yang harus berada di luar ruangan dalam waktu lama.
Sementara itu, lansia memerlukan perhatian khusus karena sebagian telah memiliki penyakit penyerta, seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, maupun penyakit paru kronis. Memburuknya kualitas udara dapat memperberat kondisi kesehatan yang sebelumnya sudah ada.
“Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit paru dan jantung harus menjadi prioritas perlindungan. Pada kelompok lansia, misalnya, paparan asap dan debu dapat memperburuk penyakit penyerta yang telah mereka alami,” jelasnya.
Lima Langkah Perlindungan Kesehatan
Dalam menghadapi paparan abu vulkanik maupun asap karhutla, Tedy mengingatkan masyarakat untuk melakukan sejumlah langkah perlindungan sederhana.
Pertama, menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang baik, seperti N95 atau perlindungan setara, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan pada saat kualitas udara buruk.
“Masker kain biasa memiliki kemampuan yang terbatas untuk menyaring partikel halus. Ketika paparan abu atau asap cukup berat, gunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang lebih baik seperti N95 atau yang setara,” kata Tedy.
Kedua, membatasi aktivitas di luar rumah. Jika kondisi udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi paparan secara langsung dan sebisa mungkin berada di dalam ruangan yang terlindung dari masuknya asap maupun debu.
Ketiga, mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Konsumsi air yang cukup penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan kelembapan saluran pernapasan.
Keempat, melindungi mata dan menjaga kebersihan. Penggunaan kacamata pelindung dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan debu. Setelah beraktivitas di luar rumah, wajah, tangan, serta bagian tubuh yang terpapar sebaiknya segera dibersihkan dan pakaian diganti.
Kelima, memperhatikan kelompok rentan. Bayi, ibu hamil, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung maupun paru harus mendapatkan perhatian lebih besar.
“Apabila mulai muncul sesak napas, batuk berat, atau kondisi tubuh menurun, terlebih pada kelompok rentan, jangan menunggu sampai kondisinya memburuk. Segera mencari pertolongan di fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Saatnya Belajar dari Bencana
Pada akhirnya, Indonesia tidak mungkin sepenuhnya menghindari ancaman bencana alam. Posisi geografis dan kondisi geologis menjadikan risiko gempa, letusan gunung api, banjir, maupun berbagai bencana lain sebagai bagian dari kehidupan Nusantara.
Namun, besarnya dampak sebuah bencana sangat ditentukan oleh kesiapan manusia dalam menghadapinya.
Mitigasi tidak boleh hanya dilakukan ketika gunung telah meletus, ketika api telah membakar ribuan hektare lahan, atau ketika masyarakat mulai memenuhi fasilitas kesehatan.
Pencegahan dan kesiapsiagaan harus dimulai jauh sebelum kondisi darurat terjadi.
“Bencana tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang konsisten, kesiapan pelayanan publik, dan kesiapsiagaan masyarakat,” kata dr. Tedy Hartono.
Pemerintah membutuhkan pengawasan lingkungan yang konsisten, sistem peringatan dini yang efektif, layanan kesehatan yang siap, koordinasi antarlembaga, serta edukasi kebencanaan yang dapat dipahami masyarakat.
Pada saat yang sama, pembangunan tidak seharusnya hanya dinilai melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Keselamatan manusia, kualitas lingkungan, ketahanan kesehatan masyarakat, serta kemampuan suatu wilayah menghadapi bencana juga harus menjadi indikator penting pembangunan.
Menurut Tedy, setiap bencana seharusnya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kelemahan dan memperbaiki sistem, bukan sekadar menjalankan pola tanggap darurat yang sama setiap tahun.
“Pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Keselamatan manusia juga harus menjadi ukuran keberhasilan pembangunan,” tegasnya.
Ketika abu vulkanik dan asap kebakaran kembali menutupi langit Nusantara, persoalan yang harus dijawab bukan hanya bagaimana memadamkan api atau mengevakuasi masyarakat.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa tragedi serupa masih menimbulkan dampak besar setiap kali kembali terjadi.
Tedy menegaskan bahwa kemampuan bangsa untuk belajar dari pengalaman menjadi bagian penting dari mitigasi bencana.
“Bencana alam mungkin tidak dapat dihentikan. Tetapi kegagalan belajar dari pengalaman adalah bencana yang sepenuhnya berada dalam kendali manusia,” pungkas dr. Tedy Hartono, S.H., M.C.S.
Komentar 0
Tulis Komentar Bagikan tanggapan Anda